Gunung Ciremai terletak di Jawa-Barat termasuk Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka pada posisi geografi 6° 53 lintang Utara dan 108 25 lintang Selatan dengan ketinggian 3.070 m dari permukaan laut dan tergolong pada kwalifikasi tingkat kegiatan tipe A/strato.
G.Sumbing pada waktu pemeriksaan masih tetap normal. Asap solfatara pada umumnya putih tipis dengan tekanan gas lemah, ketinggian asap maksimum 10 m dari permukaan dan minimum 4 m. Suhu solfatara tercatat minimum 90'C dan maksimum 110'C, sedangkan suhu air panas di dasar kawah terukur minimum 75'C dan maksimum 87'C.
Pemeriksaan dilaksanakan pada tanggal 26 Desember 1984. Pemeriksaan kawah serta suhu dapat dikatakan kurang menguntungkan, karena faktor cuaca yang sulit diramal. Di samping itu juga karena adanya kepulan asap yang cukup tebal dari pusat kegiatan dan hampir merata memenuhi kawah sehingga menghalangi pengamatan.
Pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu G. Galunggung dilakukan dari tanggal 17 November s/d 21 November 1984, selama 5 hari. Sedangkan peralatan yang digunakan untuk pemeriksaan ini adalah termometer dan peta topografi kawah G.Galunggung.
Pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu di puncak G.Merapi dimakudkan untuk mengetahui sejauh mana perkembangan tingkat kegiatan G.Merapi akhir akhir ini, yang tampak secara visual di puncak. Khususnya letusan 15 Juni 1984.
Pada Oktober 1984 penulis mendapat tugas melakukan pengukuran suhu di G.Papandayan dan G.Guntur, bersama Sdr. Asep Sugiri dan Unu Hidayat, dengan SPPD No.2117/P/84. Maksud pemeriksaan ini adalah untuk mengetahui aktifitas solfatara ke dua gunungapi tersebut yang termasuk Daerah Tk II Kab. Garut.
G.Slamet (3432 m) yang terletak di antara Kabupaten Purwokerto, Purbalingga dan Pemalang, adalah gunungapi yang ter-tinggi di Jawa Tengah. Bentuk / topografi lereng sebelah timur timur laut keadaannya agak rata dan teratur. Pada lereng sebelah barat-barat laut keadaannya cukup terjal
Pemeriksaan kawah serta pengukuran suhu kali ini dapat kami katakan sedikit kurang menguntungkan karena adanya beberapa faktor yang terjadi setelah letusan 15 Juni 1984. Diantaranya ialah tidak adanya peralatan yang memadai, misalnya alat/pelindung panas dan gas, disamping cuaca yang buruk serta kepulan asap yang tebal dari pusat kegiatan.
Pemeriksaan kawah dan pengukuran suhu dilakukan untuk mengetahui tingkat kegiatan G. Guntur dan G. Papandayan dibandingkan dengan keadaan sebelumnya, yaitu berdasarkan keadaan kawah, solfatara dan suhunya.
Pemeriksaan dan pengukuran suhu kawah salah satu cara untuk mengetahui perubahan kegiatan-kegiatan gunung -api pada waktu itu. Karena secara visual maupun fisik (suhu) gunungapi tersebut dapat diketahui perkembangan kegiatannya de ngan cara membandingkan dengan cara pemeriksaan sebe-lumnya.