Pemetaan zona risiko bahaya G. Tangkubanparahu ini dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkatan risiko yang timbul sebagai akibat erupsi G. Tangkubanparahu dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Pemetaan geologi dilakukan untuk mengumpulkan data - data geologi mengenai gunungapi Talagabodas berdasarkan hasil penafsiran foto udara yang didukung dengan penelitian di lapangan, meliputi : jenis batuan, baik sebaran maupun posisinya, morfologi dan pola aliran sugai serta pola struktur.
Untuk mengantisipasi kemungkinan letusan Gunung Gede di masa yang akan datang maka perlu dilakukan pengamatan secara intensif dan berkesinambungan. Pengamatan secara intensif terhadap kegiatan vulkanik Gunungapi Gede dilakukan sejak tahun 1985. Pengamatan dilakukan baik secara visual, pemeriksaan kawah puncak, maupun kegiatan kegempaan dari Pos Pengamatan Gunungapi Gede di Ciloto.
Status aktivitas G. Merapi pada triwulan I (April - Juni 1999) berada pada status "aktif normal" yang berlaku sejak pertengahan bulan Januari 1999, secara visual tercermin dengan asap solfatar berwarna putih tebal, tekanan lemah, tinggi asap maksimum berkisar antara 100 - 600 meter, kecuali pada tgl 11 Juni 1999 tinggi asap maksimum mencapai 1000 meter terukur dari Pos Pengamatan Selo pada jam …
Dari data-data kegempaan yang di peroleh menunjukkan pada saat ini gunung guntur dalam keadaan aktif normal. Gempa-gempa vulkanik yang terekam pada bulan januari hingga april 1997 bersumber di sekitar gunung guntur dengan kedalaman 1.7-22,5 km dan sebaran acak.
Penyuluhan ini dilakukan agar penduduk yang bermukim dan bermata pencaharian di sekitar G. Galunggung dapat memilih tempat bermukim di daerah yang relatif aman dan menghindari daerah rawan bahaya sesuai dengan hasil Peta Daerah Bahaya yang sudah publish.
Komposisi kimia gas G. Kelut pada bulan April tidak memberikan tanda - tanda peningkatan kegiatan. Diperlukan adanya penelitian yang berkesinambungan mengenai kimia gas vulkanik dan kimia air danau kawah, yang terutama dalam rangka menunjang pemantauan aktifitas vulkanik.
Kegiatan inventarisasi bahan galian di Komplek Gunungapi Ijen, Kab. DT. II Banyuwangi dan DT II Bondowoso, Jawa Timur dilakukan untuk mengetahui material yang dihasilkan oleh letusan selama sejarah pembentukan Komplek Gunungapi Ijen yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan atau bahan galian golongan C.
Ada beberapa aspek yang dibuat dalam pembuatan dokumentasi gunungapi antara lain yang menyangkut aspek vulkanologi, sosial, dan ekonomi yang berada disekeliling tubuh gunungapi tersebut.
Pengukuran Deformasi Vertikal di G.. Tangkubanparahu dilakukan untuk mengetahui perubahan beda tinggi (arah vertikal) dari sebuah gunung api, guna mengetahui kegiatan di daerah gunungapi serta untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan kegiatan suatu gunung api.