Keadaan kawah G.Kelut ditinjau oleh Sdr. Tumpal Situmorang B.Sc., dibawah pimpinan Sdr. Sumarna Hamidi B.Sc dan penulis pada tanggal 26 September 1974 sampai 2 Oktober 1974. Hal itu untuk menanggapi berita surat kabar "Sinar Harapan" dan yang lain terbit tanggal 25 September 74, dengan kepala berita "G.Kelut giat lagi".
Menurut Neumann Van Padang (1951), Gunung Kelut menjulang secara teratur dari dataran Kediri di barat dan dari lembah Sungai Brantas di selatan. Ke timur dan utara gunungapi - gunungapi Kawi, Laksono dan Anjasmoro mengganggu pembentukan kaki gunung yang normal.
Tulisan ini dimaksudkan sekadar mengetahui perkembangan kegiatan G. Kelut dan pengawasannya pada waktu akhir akhir ini. Beberapa contoh letusan masa lampau telah digunakan untuk mencoba memperkirakan jangka waktu istirahat antara dua letusan berturut turut dan pula bahaya letusan yang akan datang. Letusan G. Kelut "terakhir" terjadi pada tahun 1966 dan dapat dikatakan keadaan kegiatannya mereda…
G.Kelut (+ 1731 m) termasuk salah satu dari 79 gunungapi aktif yang berbahaya di Indonesia. Nilai Derajat Bahayanya 87, dari 100 yang maksimum. Letaknya di Jawa Timur, di batas antara Kabu-paten Kediri-Blitar-Malang. Kediri dan Blitar merupakan kota-kota besar di sebelah baratlaut dan baratdaya G.Kelut.
Semenjak letusan tahun 1966 sampai saat ini C. Kelut selalu dimonitor oleh para pakar Vulkanologi dari dalam negri maupun dari luar negri de-ngan menggunakan bermacam-macam metode tergantung pada bidangnya masing-masing. Namun sampai saat ini gunug Kelut belum menunjukan tanda-tanda yang menghawatirkan.
pada umumnya pengamtan seismik terhadap gunungapi-gunungapi aktif di Indonesia hanya digunakan pesawat seismograf mekanis dengan pembesaran rendah, kecuali di gunung Tangkuban Prahu dan Merapi dimana digunakan seismograf transistor dengan pembersaran yang cukup tinggi.
Atas perintah dari Kepala Dinas Volkanologi dengan disertai surat perintah jalan lio. 53/3/1968 dan No. 54/3/1963, tertanggal Bandung 29 Djanuari 1963, penulis disertai sdr. Sobana ditugaskan untuk mengadakan pengukuran topografi Kawah O.Kelut tersebut diatas.
Pada tgl 4/7-1963 petugas2 lengkap berada di pos puntjak G.Kelut, ialah 2 orang petugas Bandung (penulis dan Sdr Tr. Rachmat) dan 3 orang pegawai tetapnja (Sdr Mardjani, Sakiman, dan Kandit). Bertalian dengan diperbaikinja pos di Margomuljo dimana penulis perlu membuktikan sampai dimana perbaikan itu selesai, maka penulis mempertimbangkan untuk turun ke Margomuljo guna menjasikannja.
Pelaksanaan pekerdjaan ini sesuai dengan tugas jang diberikan oleh Kepala Urusan Vulkanologi, jaitu pemindahan pesawat gempa elektromaknetik di Bojolali, serta kalibrasi pesawat2 gempa lainnja disekitar G.Merapi dan G.Kelut.
Dengan surat perintah Wk.Kepala Pusat Djawatan Geologi di Bandung No. Sw. 80/59 tgl 29/1-1959, penulis disertai Sdr. S.Harto Pengamat Teknik Geologi, diberi tugas oleh Kepala Urusan Vulkanologi untuk menetapkan tingginya permukaan air kawah G.Kelut dari laut dan membuat tracee jalan jeep dari pos Vulkanologi G. Sawur ke jalan umum.