Penulis melaksanakan dan mengerjakan pemeriksaan lahar di daerah G. Galunggung di wilayah Tk. II Tasikmal aya berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas No.692/P/1983, tertanggal Bandung 25 Juni 1983, selama 14 hari. Maksud pemeriksaan (survei) lahar tersebut adalah untuk mengetahui kemungkinan terjadinya penyelewengan/peluapan banjir labar di Sungai-sungai: Ci Mampang, Ci Loseh, Ci Banjaran, …
Dalam rangka mendapatkan pola, rumusan dan metode penanggulangan korban bencana alam Gunung Galunggung secara tuntas dan terpadu, atas kerjasama antara BARKONAS PBA dengan UNDP, UNDRO dan PMI tekah diselenggarakan lokal karya nasioanl pencegahan dan penanggulangan korban bencana alam Gunung Galunggung dari tanggal 20 s/d 25 September 1982 di Bandung.
Gunungapi Ciremai dan sekitarnya perlu diselidiki secara terperinci untuk dan memisahkan stratigrafi rempah gunungapi tersebut disamping penelitian struktur yang lebih terperinci. Dari hasil penelitian tersebut dapat disusun peta geologi gunungapi Ciremai beserta laporannya.
Kami bertiga Sdr. E. Abdul Patah, A. Djajawinangun dan penulis tgl 17/11-1982 jam 9.30 berangkat dari Bandung mengikuti Sdr. Hadian R. yang kebetulan tugas ke Gunung Galunggung, sampai di posko Cikasasah jam 15.00.
G. Galunggung merupakan salah satu gunungapi yang meletus setelah masa istirahat yang sangat panjang, yaitu 64 tahun.
Bidang Persidangan merupakan salah satu unit pelaksana yang mengemban tugas penyelengaraan persidangan selama ber-langsungnya Lokakarya Nasional tersebut di Bandung sejak 20 September hingga dengan 25 September 1902.
Penelitian yang dilakukan oleh Tim Perancis bersama Indonesia tersebut bersifat Pendahuluan dan regional. Pada bulan Juli-Agustus 1978 penelitian dilanjutkan dengan men gunakan metoda yang sama ditambah metoda "telluric current" /metode geolistrik sebagai metoda pendamping.
Sebagaimana telah dilaporkan pada laporan hasil pemetaan tahap pertama, G.Salak adalah gunungapi tipe strato pada tingkat kegiatan fumarola dengan ketinggian 2211 m di atas muka laut dan secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi.
The continuous eruptions of Mt. Galunggung will create problems for the inhabitants in the disaster area and its surroundings, mostly in West Java. From the perspective of development, each disaster, particularly the Galunggung disaster, is a constraint to development. Above all, disasters destroy the "results of development", using up large amounts of manpower, expertise and funds.
Efforts to deal with the Mt. Galunggung disaster should mobilize the potential of all people concerned for preventive and preparedness actions. At the village level the potential of all people should be effectively co-ordinated and used to save and protect human lives, property and sources of livelyhood.