Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral
(ESDM) bekerjasama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar
penelitian pendahuluan mikrofosil dan bioindikator perairan di ekosistem Rawa
Ranca Upas, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat (Gambar 1). Kajian ini
difokuskan pada identifikasi taksonomi dan struktur komunitas diatom
(Bacillariophyceae) sebagai langkah awal memahami dinamika lingkungan dan
mendukung konservasi lahan gambut pegunungan yang keberadaannya kian langka di
Jawa Barat.
7o08’08,97” S;
107o23’33.78” E
Gambar 1. Citra Google Earth kawasan lahan gambut Ranca Upas. Bulatan kuning adalah titik pemboran tangan dan pengambilan sampel air dan substrat gambut permukaan.
Signifikansi Ekosistem Rawa Pegunungan Ranca Upas
Rawa Ranca Upas merupakan salah satu situs lahan basah (wetland)
dataran tinggi di zona vulkanik Jawa Barat. Selain berfungsi sebagai area
tangkapan air alami dan penyimpan karbon (carbon sink), ekosistem ini
menyimpan rekaman sejarah iklim masa lalu (paleoklimat) yang sangat berharga.
Mengingat tingginya ancaman alih fungsi lahan dan perubahan iklim global terhadap kelestarian lahan gambut pegunungan, pemetaan rona lingkungan awal (baseline study) berbasis mikroorganisme menjadi krusial sebelum dilakukan langkah-langkah konservasi dan pemulihan vegetasi secara terpadu.
Hasil Analisis Diatom Air Permukaan
Pada penelitian awal ini, tim peneliti melakukan pengambilan sampel air dan substrat gambut permukaan, serta melakukan pemboran tangan sedalam 9 meter. Pengambilan sampel air dan substrat permukaan dilakukan untuk memahami keanekaragaman komunitas mikroalga berdinding silika yang menghuni lahan gambut tropis pegunungan ini. Pemahaman ini akan menjadi dasar dalam mempelajari perubahan iklim dan evolusi pembentukan lahan gambut ini dalam beberapa ribu tahun terakhir.
Di laboratorium, preparasi cepat dilakukan terhadap sampel
air dan substrat gambut permukaan dengan langkah sebagai berikut:
1. Penyaringan
Sampel: Sampel air rawa disaring menggunakan media filter mesh halus untuk
mengonsentrasikan mikrofosil dan memisahkan material serpihan kasar.
Identifikasi dilakukan mengacu pada Krammer, K. (2000),
Battarbee, R. W., et al. (2001), Taylor, J. C., Harding, W. R., &
Archibald, C. G. M. (2007), Spaulding, S. A., et al. (2021), Guiry, M.D. &
Guiry, G.M. (2024). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ada delapan genus
diatom yang hadir di perairan lahan gambut Ranca Upas yaitu Navicula sp
dan Pinnularia sp., Eunotia flexuosa, Eunotia serra, Eunotia
diodon Ehr., Surirella sp., Frustulia sp., dan Sellaphora
sp. (Gambar 2).
Gambar 2. Keanekaragaman diatom di air dan substrat
permukaan lahan gambut Ranca Upas: 1. Navicula sp., 2. Pinnularia
sp., 3. Eunotia flexuosa, 4. Eunotia serra, 5. Eunotia diodon Ehr., 6. Surirella
sp., 7. Frustulia sp., 8. Sellaphora
sp.
Komposisi Taksa
Hasil kuantifikasi menunjukkan bahwa komunitas diatom di
lokasi studi didominasi oleh dua genus utama:
Secara keseluruhan, himpunan taksa tersebut merepresentasikan ekosistem rawa gambut asam tergenang dengan pasokan nutrien organik yang melimpah di lapisan substrat benthik.
Implikasi Kebijakan Konservasi
Lahan gambut dan rawa pegunungan merupakan ekosistem terancam (endangered ecosystem) di Pulau Jawa akibat aktivitas antropogenik dan tekanan segmentasi lahan sehingga perlu dilakukan berbagai upaya konservasi. Data mikroforensik lingkungan hasil kolaborasi riset ini akan diserahkan kepada pihak pengelola kawasan dan instansi terkait sebagai acuan teknis penetapan batas zona konservasi, perlindungan keanekaragaman hayati, serta mitigasi degradasi lahan basah.
Daftar Pustaka
Penulis : Woro Sri
Sukapti (Pusat Survei Geologi-Badan Geologi) dan Eko Yulianto (BRIN)