Badan Geologi, Kementerian Energi
dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Balai Konservasi Air Tanah (BKAT), Pusat
Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL), bekerja sama dengan Fakultas
Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia
menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Teknologi Pemantauan Air Tanah sekaligus
Peresmian Sumur Pantau Air Tanah pada Senin, 2 November 2026 di lingkungan
FMIPA Universitas Indonesia, Depok. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian
dari upaya memperkuat pengelolaan dan konservasi sumber daya air tanah melalui
pemanfaatan teknologi pemantauan modern, peningkatan kepatuhan pelaku usaha,
serta penguatan sinergi antara pemerintah dan perguruan tinggi.
Rangkaian acara yang berlangsung
di Kampus FMIPA UI Depok tersebut dihadiri oleh Kepala Badan Geologi Dr. Lana
Saria, S.Si., M.Si., Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan
(PATGTL) Ir. Agus Cahyono Adi, M.T., Tenaga Ahli Menteri ESDM Bidang Konservasi
Air Tanah Haris Andi Surahman, Kepala Balai Konservasi Air Tanah (BKAT) Dr. Taat
Setiawan, S.T., M.T., serta Dekan FMIPA Universitas Indonesia Prof. Dr. Tito
Latif Indra, S.Si., M.Si. Turut hadir pula Asisten Deputi Infrastruktur Sumber Daya Air dan
Pangan, Kementerian Koordinator Bidang
Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Dr. Suraji, S.P., M.Si., Kepala Sekretariat
Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) Dr. Yunitta Chandra Sari, S.E., S.T.,
M.T., Ketua Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia (PAAI) Irwan Iskandar, Ph.D.,
serta perwakilan dari instansi pemerintah terkait, akademisi, dan pelaku
usaha pemegang izin pengusahaan air tanah dari berbagai sektor.
Acara diawali dengan penyampaian
pandangan dari pimpinan instansi mengenai pentingnya menjaga keseimbangan
antara pemanfaatan air tanah untuk pembangunan dan perlindungan lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut, Kepala Badan Geologi Dr. Lana Saria, S.Si., M.Si.,
menegaskan bahwa pemanfaatan air tanah yang tidak terkendali berpotensi
menimbulkan dampak lingkungan yang serius seperti penurunan muka air tanah,
penurunan muka tanah (land subsidence), intrusi air laut, dan penurunan
kualitas air.
Dalam penyampaiannya, Kepala
Badan Geologi, Lana Saria, menekankan pentingnya pendekatan sains dan
kolaborasi lintas sektor. “Air tanah merupakan sumber daya strategis yang
menopang kehidupan masyarakat dan pembangunan nasional. Karena itu, pengelolaan
air tanah tidak boleh hanya berorientasi pada pemanfaatan, tetapi harus
berjalan seiring dengan konservasi,” ujar Lana. Ia menjelaskan bahwa
pembangunan sumur pantau di Laboratorium Parangtopo FMIPA UI merupakan langkah
nyata untuk memperkuat pemantauan real-time berbasis Internet of
Things (IoT) yang terintegrasi dengan platform ARTESIS (Air Tanah
Terintegrasi Indonesia). “Pengelolaan
air tanah perlu melibatkan seluruh unsur melalui pendekatan pentahelix,
yaitu pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, masyarakat, dan media. Sinergi
ini penting karena tantangan pengelolaan air tanah tidak dapat diselesaikan
oleh satu institusi saja.” tegasnya.
Sejalan dengan hal tersebut,
Kepala PATGTL Agus Cahyono Adi menyampaikan bahwa ketersediaan data yang akurat
dan berkesinambungan menjadi dasar ilmiah yang vital dalam penyusunan kebijakan
dan pengawasan. “Sumur pantau menjadi infrastruktur penting untuk mengetahui
dinamika kondisi air tanah, sekaligus menyediakan dasar ilmiah bagi pengawasan
dan penyusunan kebijakan konservasi. Integrasi data dari sumur pantau
pemerintah maupun pelaku usaha ke dalam sistem ARTESIS diharapkan dapat
menghasilkan gambaran kondisi air tanah yang lebih komprehensif,” terang Agus.
Ia turut mengimbau dunia usaha untuk berperan aktif dalam memenuhi kewajiban
pembangunan sumur pantau dan penyediaan data sesuai regulasi.
Sementara itu, Kepala BKAT Taat
Setiawan memaparkan peran operasional BKAT dalam memperluas jaringan pemantauan
di wilayah Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta. “Pada tahun anggaran 2026 ini,
BKAT membangun 5 sumur pantau yang tersebar di wilayah Jakarta Utara, Depok,
dan Bogor, di mana salah satu lokasinya berada di Laboratorium Parangtopo FMIPA
UI,” jelasnya. Taat menambahkan bahwa kehadiran pelaku usaha dalam kegiatan
sosialisasi ini menjadi momentum penting untuk memperkuat pemahaman regulasi
dan mendorong terintegrasinya data pemantauan milik swasta ke dalam platform
ARTESIS.
Dari sudut pandang akademisi,
Dekan FMIPA UI Prof. Dr. Tito Latif Indra, S.Si., M.Si., menyambut hangat
sinergi ini dan siap mendukung keberlanjutan pemanfaatan data hidrogeologi
untuk riset dan penerapan ilmu pengetahuan. “Kami berharap keberadaan sumur
pantau ini menjadi sumber data yang kaya untuk penelitian antar-program studi
di FMIPA UI. Kami siap mengambil bagian lebih jauh untuk memberikan
penyelesaian atas permasalahan air tanah. Keunggulan sains memang sebaiknya
tidak hanya diukur dari paper, tetapi bagaimana ilmu dapat diterapkan
secara nyata,” tegas Prof. Tito.
Rangkaian kegiatan kemudian
dilanjutkan dengan peresmian dan peninjauan langsung infrastruktur sumur pantau
air tanah yang berlokasi di Laboratorium Parangtopo FMIPA UI. Kepala Badan
Geologi bersama jajaran pimpinan dan Dekan FMIPA UI melihat secara langsung
pengoperasian sensor pemantauan berbasis IoT. Peninjauan ini menandai
dimulainya operasional sumur pantau tersebut sebagai sarana pemantauan
hidrogeologi terpadu sekaligus fasilitas pendukung riset dan pembelajaran bagi
sivitas akademika Universitas Indonesia. (Gita, Dendi, Humas Badan Geologi)