Pada bagian sebelumnya telah
dijelaskan bagaimana analisis mikrofosil dari inti pemboran di lokasi Prospek
Kampus PEP-Bandung mengungkap keberadaan fitolit pisang dan pinang yang
merekam jejak vegetasi masa lalu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah di
sekitar lokasi penelitian pernah ditumbuhi vegetasi tropis yang cukup beragam.
Namun untuk memahami bagaimana sisa-sisa tumbuhan tersebut dapat terkubur jauh
di bawah permukaan tanah, diperlukan kajian terhadap proses geologi yang
membentuk lapisan sedimen di lokasi tersebut. Melalui analisis stratigrafi dan
sedimentologi, para peneliti mencoba membaca kembali sejarah pengendapan yang
terjadi di wilayah ini.
Susunan lapisan batuan dari inti
pemboran menunjukkan bahwa sedimen di lokasi penelitian merupakan bagian dari
sistem kipas aluvial. Kipas aluvial terbentuk ketika material batuan dari
daerah pegunungan terbawa oleh aliran air atau aliran massa menuju daerah yang
lebih landai. Ketika energi aliran berkurang, material tersebut kemudian
diendapkan secara bertahap. Proses ini menghasilkan susunan sedimen dengan
ukuran butir yang bervariasi, mulai dari bongkah hingga lumpur halus.
Lapisan yang mengandung fitolit
ditemukan berada di antara dua lapisan breksi vulkanik yang lebih kasar. Breksi
tersebut tersusun oleh fragmen batuan andesit berukuran kerakal hingga
berangkal dengan bentuk menyudut. Ciri tersebut menunjukkan bahwa material
batuan tersebut berasal dari sumber yang relatif dekat. Sebaliknya, lapisan
lanau yang berada di antaranya menunjukkan karakter sedimen yang jauh lebih
halus.
Dalam kajian sedimentologi,
perbedaan karakter batuan seperti ini dikenal sebagai variasi fasies.
Breksi vulkanik yang berada pada bagian atas dan bawah lapisan lanau
diinterpretasikan sebagai fasies medial dalam sistem kipas aluvial.
Fasies ini umumnya terbentuk pada bagian tengah kipas aluvial yang masih
memiliki energi aliran cukup kuat untuk mengangkut material berukuran kasar.
Sementara itu, lapisan lanau yang lebih halus diinterpretasikan sebagai fasies
distal, yaitu bagian kipas yang lebih jauh dari sumber material.
Keberadaan lapisan lanau di antara
dua lapisan breksi memberikan petunjuk penting mengenai perubahan kondisi
pengendapan yang pernah terjadi. Pada suatu periode, aliran material dari
daerah pegunungan kemungkinan mengalami penurunan energi sehingga hanya mampu
mengangkut sedimen yang lebih halus. Pada saat itulah lanau yang membawa
berbagai mikrofosil, termasuk fitolit pisang dan pinang, diendapkan.
Setelah periode tersebut, aktivitas aliran massa kembali meningkat sehingga
material yang lebih kasar kembali mendominasi proses pengendapan.
Kehadiran mikrofosil di dalam
sedimen vulkanik tersebut menunjukkan bahwa lapisan ini merupakan endapan epiklastik.
Istilah ini merujuk pada sedimen yang terbentuk dari material vulkanik yang
telah mengalami percampuran dengan air dan/atau pengangkutan dan pengendapan
ulang oleh proses erosi dan aliran massa. Dalam proses tersebut, berbagai
material dari lingkungan sekitar dapat tercampur, termasuk sisa-sisa tumbuhan
yang kemudian terawetkan dalam bentuk fitolit. Inilah yang menjelaskan
mengapa jejak vegetasi purba dapat ditemukan di dalam sedimen yang berasal dari
material vulkanik.
Berdasarkan analisis stratigrafi
dan karakter sedimen yang ditemukan, proses pengendapan di lokasi ini dapat
direkonstruksi dalam tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pengendapan breksi
lahar masif yang membentuk bagian bawah profil sedimen. Tahap kedua ditandai
dengan pengendapan lanau halus yang membawa berbagai material biogenik,
termasuk fitolit. Tahap terakhir adalah kembalinya pengendapan breksi
lahar yang menutupi lapisan lanau tersebut hingga mendekati permukaan.
Rekonstruksi ini menunjukkan bahwa
kawasan baratlaut Cekungan Bandung pernah mengalami dinamika aliran massa yang
cukup intens. Perubahan energi aliran dari waktu ke waktu menghasilkan variasi
ukuran sedimen yang kemudian membentuk susunan lapisan yang berbeda. Melalui analisis
yang teliti terhadap inti pemboran, para peneliti dapat membaca kembali
proses-proses alam yang terjadi ribuan hingga puluhan ribu tahun yang lalu.
Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami evolusi bentang alam
di wilayah Bandung.
Sebagai bagian dari tugasnya dalam
melakukan penyelidikan dan penyediaan informasi geologi nasional, Pusat Survei
Geologi terus mengembangkan berbagai metode penelitian untuk mengungkap sejarah
geologi Indonesia. Kajian yang menggabungkan analisis stratigrafi,
sedimentologi, dan mikrofosil memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai
proses pembentukan suatu wilayah. Data yang dihasilkan tidak hanya memperkaya
pengetahuan ilmiah, tetapi juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan di
bidang geologi lingkungan, kebencanaan, maupun pengelolaan sumber daya alam.
Belum baca bagian pertama dari artikel ini? Yuk, buka link berikut Berita | Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi
Penulis :
Woro Sri Sukapti (Pusat Survei Geologi) dan Eko Yulianto (BRIN)
Penyunting : Tim Scientific Board – Pusat Survei Geologi