Jejak Geologi dan Vegetasi Purba Bandung Bagian 2: Dinamika Kipas Aluvial di Baratlaut Cekungan Bandung

Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bagaimana analisis mikrofosil dari inti pemboran di lokasi Prospek Kampus PEP-Bandung mengungkap keberadaan fitolit pisang dan pinang yang merekam jejak vegetasi masa lalu. Temuan tersebut menunjukkan bahwa wilayah di sekitar lokasi penelitian pernah ditumbuhi vegetasi tropis yang cukup beragam. Namun untuk memahami bagaimana sisa-sisa tumbuhan tersebut dapat terkubur jauh di bawah permukaan tanah, diperlukan kajian terhadap proses geologi yang membentuk lapisan sedimen di lokasi tersebut. Melalui analisis stratigrafi dan sedimentologi, para peneliti mencoba membaca kembali sejarah pengendapan yang terjadi di wilayah ini.

Susunan lapisan batuan dari inti pemboran menunjukkan bahwa sedimen di lokasi penelitian merupakan bagian dari sistem kipas aluvial. Kipas aluvial terbentuk ketika material batuan dari daerah pegunungan terbawa oleh aliran air atau aliran massa menuju daerah yang lebih landai. Ketika energi aliran berkurang, material tersebut kemudian diendapkan secara bertahap. Proses ini menghasilkan susunan sedimen dengan ukuran butir yang bervariasi, mulai dari bongkah hingga lumpur halus.

Lapisan yang mengandung fitolit ditemukan berada di antara dua lapisan breksi vulkanik yang lebih kasar. Breksi tersebut tersusun oleh fragmen batuan andesit berukuran kerakal hingga berangkal dengan bentuk menyudut. Ciri tersebut menunjukkan bahwa material batuan tersebut berasal dari sumber yang relatif dekat. Sebaliknya, lapisan lanau yang berada di antaranya menunjukkan karakter sedimen yang jauh lebih halus.

Dalam kajian sedimentologi, perbedaan karakter batuan seperti ini dikenal sebagai variasi fasies. Breksi vulkanik yang berada pada bagian atas dan bawah lapisan lanau diinterpretasikan sebagai fasies medial dalam sistem kipas aluvial. Fasies ini umumnya terbentuk pada bagian tengah kipas aluvial yang masih memiliki energi aliran cukup kuat untuk mengangkut material berukuran kasar. Sementara itu, lapisan lanau yang lebih halus diinterpretasikan sebagai fasies distal, yaitu bagian kipas yang lebih jauh dari sumber material.

Keberadaan lapisan lanau di antara dua lapisan breksi memberikan petunjuk penting mengenai perubahan kondisi pengendapan yang pernah terjadi. Pada suatu periode, aliran material dari daerah pegunungan kemungkinan mengalami penurunan energi sehingga hanya mampu mengangkut sedimen yang lebih halus. Pada saat itulah lanau yang membawa berbagai mikrofosil, termasuk fitolit pisang dan pinang, diendapkan. Setelah periode tersebut, aktivitas aliran massa kembali meningkat sehingga material yang lebih kasar kembali mendominasi proses pengendapan.

Kehadiran mikrofosil di dalam sedimen vulkanik tersebut menunjukkan bahwa lapisan ini merupakan endapan epiklastik. Istilah ini merujuk pada sedimen yang terbentuk dari material vulkanik yang telah mengalami percampuran dengan air dan/atau pengangkutan dan pengendapan ulang oleh proses erosi dan aliran massa. Dalam proses tersebut, berbagai material dari lingkungan sekitar dapat tercampur, termasuk sisa-sisa tumbuhan yang kemudian terawetkan dalam bentuk fitolit. Inilah yang menjelaskan mengapa jejak vegetasi purba dapat ditemukan di dalam sedimen yang berasal dari material vulkanik.

Berdasarkan analisis stratigrafi dan karakter sedimen yang ditemukan, proses pengendapan di lokasi ini dapat direkonstruksi dalam tiga tahap utama. Tahap pertama adalah pengendapan breksi lahar masif yang membentuk bagian bawah profil sedimen. Tahap kedua ditandai dengan pengendapan lanau halus yang membawa berbagai material biogenik, termasuk fitolit. Tahap terakhir adalah kembalinya pengendapan breksi lahar yang menutupi lapisan lanau tersebut hingga mendekati permukaan.

Rekonstruksi ini menunjukkan bahwa kawasan baratlaut Cekungan Bandung pernah mengalami dinamika aliran massa yang cukup intens. Perubahan energi aliran dari waktu ke waktu menghasilkan variasi ukuran sedimen yang kemudian membentuk susunan lapisan yang berbeda. Melalui analisis yang teliti terhadap inti pemboran, para peneliti dapat membaca kembali proses-proses alam yang terjadi ribuan hingga puluhan ribu tahun yang lalu. Informasi tersebut menjadi bagian penting dalam memahami evolusi bentang alam di wilayah Bandung.

Sebagai bagian dari tugasnya dalam melakukan penyelidikan dan penyediaan informasi geologi nasional, Pusat Survei Geologi terus mengembangkan berbagai metode penelitian untuk mengungkap sejarah geologi Indonesia. Kajian yang menggabungkan analisis stratigrafi, sedimentologi, dan mikrofosil memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai proses pembentukan suatu wilayah. Data yang dihasilkan tidak hanya memperkaya pengetahuan ilmiah, tetapi juga dapat menjadi dasar bagi penelitian lanjutan di bidang geologi lingkungan, kebencanaan, maupun pengelolaan sumber daya alam.

Belum baca bagian pertama dari artikel ini? Yuk, buka link berikut Berita | Portal Layanan Satu Pintu Badan Geologi


Penulis            : Woro Sri Sukapti (Pusat Survei Geologi) dan Eko Yulianto (BRIN)

Penyunting     : Tim Scientific Board – Pusat Survei Geologi

Ikuti Berita Kami