Pemetaan Zona Risiko Gunungapi Galunggung bertujuan untuk melakukan pengecekan/penelitian tingkat bahaya/risiko secara kwalitatif. Pengecekan lapangan dilakukan terutama mengenai batas - batas zonasi bahaya, pola sebaran aliran piroklastik serta lahar, pemanfaatan lahan dan perhitungan jumlah penduduk setiap pemukiman serta pengumpulan data - data lapangan yang berkaitan dengan faktor sosial ek…
Dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang berwawasan lingkungan di daerah bahaya gunungapi, maka salah sat usaha dalam mengevaluasinya adalah dengan melakukan analisa risiko di daerah berbahaya terhadap objek - objek bencana. Hasil analisa tersebut akan tercerminkan pada Peta Zona Risiko Bahaya Gunungapi. Peta ini selain dapat digunakan dalam mengevaluasi tata ruang, juga dapat dimanfaatkan u…
Berkaitan dengan mitigasi bencana geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi berkewajiban memberikan pelayanan Informasi kepada masyarakat mengenai ancaman bahaya gunungapi, gerakan tanah, gempabumi dan tsunami. Sebagaimana kita ketahul secara tektonik, Indonesia terletak di antara 3 lempeng tektonik aktif, yaitu Lempeng Eurasia di sebelah utara, Lempeng Pasifik di sebelah timur da…
Gunungapi Galunggung merupakan gunungapi strato yang berada di blok tektonik Priangan bagian selatan, yaitu G. Malabar, G. Patuha, G. Wayang, G. Papandayan, G. Guntur, G. Cikuray, dan G. Galunggung itu sendiri. G. Galunggung terletak pada koordinat 7° 15' LS dan 108°03' BT. Gunungapi Galunggung terakhir kali meletus pada tahun 1982-1983. Sifat letusannya magmatik eksplosif dan strombolian …
Gunungapi Galunggung yang merupakan salah satu gunungapi tipe A di Indonesia menempati daerah seluas kurang lebih 275 km² dengan diameter 27 km (baratlaut-tenggara) dan 13 km (timurlaut-baratdaya). G. Galunggung merupakan gunungapi bertipe strato dengan ketinggian puncak 2.168 m dpl atau 1.820 m di atas dataran Tasikmalaya (Kusumadinata, 1979).
Metode yang digunakan untuk mengamati besarnya deformasi dari Gunungapi Galunggung adalah metode pengamatan GPS secara kontinyu. Pengamatan deformasi menggunakan GPS merupakan salah satu metode yang sangat aktif karena dapat menghasilkan data dengan ketelitian hingga orde mm (milimeter) dengan menggunakan metode Differential Potitioning.