Mengingat musim hujan 1983-1984 sudah mulai tiba, maka beberapa gunugapi yang dianggap rawan memerlukan perhatian khusus, maka para petugas dari Seksi Pemetaan Daerah Bahaya diberangkatkan untuk melihat perkembangan lahar selanjutnya, oleh karena sudah sejak 1981 G. Semeru ini ditinggalkan.
Pengamatan lapangan dilaksanakan dari awal Agustus sampai pertengahan September 1984, menggunakan sistim jaringan tripartit. Peralatan yang digunakan adalah seperangkat seismograp elektromagnetik tiga komponen. Sedang transdusernya adalah ''Short Period Seismometer" komponen tegak dengan "Natural Period" 1 cycle per detik.
Untuk lebih mengenal perubahan tingkah laku kegiatan Gunung Semeru perlu dilakukan pengumpulan informasi yang sesuai dengan rencana kerja dalam tahun anggaran 1990/1991. Sejak 7 Agustus sampai 25 Agustus 1990 telah ditugaskan 4 orang personil dari Bandung dipimpin oleh Ir. Kastiman Sitorus MSc dengan SPPD no. 790/0441/3402/90, untuk melaksanakan pengamatan visual dan seismik.
Sesar (patahan) dan hidrotermal merupakan salah satu fenomena alam yang sering dipelajari, untuk studi geofisika teoritis maupun lapangan. Salah satu metoda yang digunakan untuk mempelajadi fenomena tersebut adalah dengan metode SP (Self Potential).