Atas Permintaan Pimpinan Pengawasan Gunung Merapi di Jogjakarta (P. G. M.). Penulis bersama Sdr. Ato Djuhara, Sdr. Ismangun Surjo. ditugaskan Kepala Seksi Penelitian Gunungapi, untuk melengkapi dan sebagian merevisi peta daerah bahaya sekitar G. Merapi.
Tinggi puncak lava 1974 adalah 2.845m (dari permukaan laut
Dari hasil pengukuran peda tahun 1967 tersebut dapat dilihat bah- wa memang nampak gejala perubahan medan magnet yang berhubungan dengan perubahan-perubahan kegiatan G. Merapi (SOEDJADI SASTROSOEGITO, 1968, h. 10). Dalam pencukuran yang aken datang dilakukan tiap-tiap bulan selama 10 hari.
Longsoran lava dan awan panas meluncur mengikuti hulu S. Batang ke arah Barat Daya. Endapan longsorang dan Ladu terdapat pada lembah S. Batang, S. Bebeng, S. Blongkeng dan sebagian meluber di sekitarnya sungai-sungai tersebut di atas. Hujan abu bercampur dengan pasir halus yang mempunyai ketebalan antara 3 s/d. 4 mm. mempunyai luas kurang lebih 53.125.000 m2.
Pelaksanaan pekerdjaan ini sesuai dengan tugas jang diberikan oleh Kepala Urusan Vulkanologi, jaitu pemindahan pesawat gempa elektromaknetik di Bojolali, serta kalibrasi pesawat2 gempa lainnja disekitar G.Merapi dan G.Kelut.
Longsoran lava dan awan panas melluncur mengikuti hulu S. Batang ke arah Barat Daya. Jarak lintas awan panas mencapai kurang lebih 6,5 km dari titik longsoran. Endapanlongsoran dan ladu terdapat lembah-lembah S. Batang, S. Bebeng, sebagian meluber di sekitarnya sungai-sungai tersebut di atas.
Periode kegiatan G. Merapi ini dimulai sedjak Djanuari 1967 jang didahului olch auanpanas-auanpanas letusan. Disusul muntjulnja lava ba-ru.Titik kegiatan tepat pada kegiatan tahun 1961. Pembentukan kubah lava berlangsung terus, diselingi oleh awanpanas-asan-pansa guguran dan letusan.
Kubah lava 1973, nampak di tengah-tengah lurah Batang. Diperkirakan volum lavanya pada akhir Juni 1973 4'/2 juta m3 Jik kubah ini longsor dengan volum 4 juta maka jarak lintas awan panasnya diperkirakan 9, 7 km. dari puncak G. Merapi.
Antara tanggal 19 hingga 30 November 1961 telah dilakukan pemotretan dari udara diatas daerah sekitar G.Merapi, Djawa Tengah, dengan maksud untuk mengumpulkan keterangan - keterangan jang nantinya dapat dipakai sebagai pegangan pada penafsiran daerah - daerah jang akan bandjir serta akibat2nja.
Diantara gunung-gunung berapi di Indonesia G. Merapilah yang paling aktif. Kalau kita melihat sejarah kegiatannya sejak tahun 1991 maka gunung api tersebut dalam jangka waktu 72 tahun lebih banyak bekerja daripada tidak.. Kecuali menurut kenyataan bahwa G. Merapi sering bekerja dan hampir tiap kegiatan menyemburkan awan panas, maka G. Merapi tergolong yang paling berbahaya di Indonesia.