Dalam rangka mendukung pembangunan nasional serta untuk terwujudnya agenda proritas Nawacita maka diperlukan percepatan pelaksanaan Kebijakan satu peta (KSP) pada tingkat ketelitian peta skala 1:50000. Program KSP ini bertujuan untuk terpenuhinya satu peta yang mengacu pada satu referensi geospasial, satu standar, satu basis data, dan satu geoportal.
G. Tangkoko merupakan salah satu gunungapi aktif yang berada di wilayah berpenduduk di setiap sisinya. Unit pemukiman, lahan pertanian dan kota administratif serta pelabuhan penting terdapat disekitar gunungapi ini. Oleh karena itu perlu dilakukan verifikasi Peta Kawasan Rawan Bencana gunungapi Tangkoko.
Sebagai gunungapi aktif yang sewaktu waktu dapat meletus dan mengancam jiwa maupun harta maka Direktorat Vulkanologi telah mendirikan pos Pengamatan Gunungapi Awu yang terletak di Apengsembaka. Kecuali itu disusun pula Peta Kawasan Rawan Bencana Gunungapi Gunung Awu, dipersiapkan untuk digunakan oleh masyarakat dalam usaha menyelamatkan diri dari bahaya letusan gunungapi.
Gunungapi Ndetu Napi digolongkan kedalam kelompok gunungapi Tipe C, karena kalau dilihat dari sejarahnya sejak tahun 1600-an tidak ada catatan mengenai aktivitas letusannya. Gunungapi ini sangat erat hubungannya dengan aktivitas vulkanik yang berada di komplek Kaldera Sokoria, dan bahkan keberadaan gunungapi ini tidak dikenal oleh penduduk yang bermukim di sekitar daerah yang dimaksud dengan ke…
Dari 129 gunungapi aktif di Indonesia (Tipe A, B, dan C) terdapat 66 gunungapi tipe-A yang dipantau secara kontinyu, dan 1 diantaranya adalah G.Papandayan yang terletak di Kab. Garut, Provinsi Jawa Barat. Gunungapi Papandayan termasuk gunungapi strato, berbentuk kerucut terpancung, dibangun oleh perlapisan leleran/aliran lava dan aliran bahan lepas.
Komplek Gunungapi Arjuno-Welirang adalah merupakan salah satu gununga[i aktif tipe A, yang mempunyai beberapa kerucut dipuncaknya. Kerucut-kerucut ini terbentuk karena perpindahan titik-titik erupsi yang terletak pada satu garis lurus berarah tenggara-barat laut, dimanan pemunculnnya di kontrol oleh adanya struktur sesar normal yang melalui puncak kerucut terrsebut.