Penelitian Petrokimia dan Gas gunungapi Sundoro dilakukan untuk mengetahui kimia dan mineralogi batuan hasil erupsi Gunungapi Sundoro baik yang tercatat dalam sejarah maupun tidak. Tujuan dari penyelidikan ini untuk mendapatkan gambaran karakter komposisi kimia dan mineral dalam batuan Gunungapi Sundoro.
G. Kelut diklasifikasikan sebagai gunungapi aktif tipe A yang letusannya bersifat freato magmatik sampai magmatik dan selalu eksplosif. Kegiatan utamanya terdapat selalu dari kawah yang berisi air dengan ketinggian lebih dari 1600 mdpl, sehingga bila terjadi letusan selalu menyeburkan lahar primer yang panas mencapai 2000 C
Laporan pemetaan aliran lahar kali kobokan memiliki tujuan untuk mendapatkan/membuat Peta Situasi Topografi Aliran Lahar, guna mengetahui sebaran lahar disekitar kali Kobokan.
Pemetaan Zona Risiko Gunungapi Galunggung bertujuan untuk melakukan pengecekan/penelitian tingkat bahaya/risiko secara kwalitatif. Pengecekan lapangan dilakukan terutama mengenai batas - batas zonasi bahaya, pola sebaran aliran piroklastik serta lahar, pemanfaatan lahan dan perhitungan jumlah penduduk setiap pemukiman serta pengumpulan data - data lapangan yang berkaitan dengan faktor sosial ek…
Pemetaan zona risiko bahaya G.Kelut dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkatan risiko yang timbul sebagai akibat bahaya G.Kelut dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Dilakukan hubungan emisi gas SO2 dalam plume vulkanik dengan tingkat aktivitas Gunung Merapi. Sejak September 1974, emisi gas SO2 dalam plume vulkanik cukup rendah yaitu sekitar 50 ton/hari (dari hasil SO2 smoothing) dan emisi SO2 menunjukkan peningkatan sehari setelah terjadinya awan panas guguran.
Awan panas letusan - letusan G. Semeru tanggal 3 Februari 1994 terjadi kearah selatan yaitu 11,5 km dan mengendap disepanjang sungai B.Kobokan dengan jumlah endapan kurang lebih 4,6 juta m3 dan 9 km kearah jalur sungai B. Kembar dengan jumlah endapan 1,7 juta m3.
Direktorat Vulkanologi Bandung membentuk suatu tim khusus geologi dan laharan untuk melakukan tugas - tugas yang meliputi : pemetaan sebaran awanpanas guguran, perhitungan potensi lahar dan daya tampung K.Boyong, K. Kuning, dan K. Krasak serta pengukuan volume kubah lava dan kegiatan penyuluhan serta gladi lapang.
Pemetaan zona risiko bahaya G.Guntur dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkat risiko yang timbul sebagai akibat bahaya letusan G.Guntur dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Seksi Jawa Bagian Tengah dan Timur, pada triwulan pertama tahun 1995, diawali dari G.Slamet dibangun bak dari tembok tempat penyimpanan beberapa instrumen alat pemantauan seismik, dari pembangunan baik ini diharapkan dapat menghindari sekecil mungkin gangguan yang bakal terjadi.