Pemetaan Zona Risiko Gunungapi Galunggung bertujuan untuk melakukan pengecekan/penelitian tingkat bahaya/risiko secara kwalitatif. Pengecekan lapangan dilakukan terutama mengenai batas - batas zonasi bahaya, pola sebaran aliran piroklastik serta lahar, pemanfaatan lahan dan perhitungan jumlah penduduk setiap pemukiman serta pengumpulan data - data lapangan yang berkaitan dengan faktor sosial ek…
Pemetaan zona risiko bahaya G.Kelut dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkatan risiko yang timbul sebagai akibat bahaya G.Kelut dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Awan panas letusan - letusan G. Semeru tanggal 3 Februari 1994 terjadi kearah selatan yaitu 11,5 km dan mengendap disepanjang sungai B.Kobokan dengan jumlah endapan kurang lebih 4,6 juta m3 dan 9 km kearah jalur sungai B. Kembar dengan jumlah endapan 1,7 juta m3.
Pemetaan zona risiko bahaya G.Guntur dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkat risiko yang timbul sebagai akibat bahaya letusan G.Guntur dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Pemetaan daerah bahaya G. Patuha adalah memetakan (menarik batas - batas) daerah bahaya akibat langsung dan tidak langsung jika terjadi letusan besar di Kawah Putih, karena Kawah Putih merupakan kawah aktif/titik letusan terakhir selama sejarah kegiatannya.
Terhitung dari tanggal 27 Juni sampai dengan Juli 1992 telah diukur enam stasiun deformasi disekitar G.Gede masing-masing satu kali, kecuali stasiun deformasi Taman Cibodas diukur 2 kali. Keenam stasiun yang telah diukur tersebut ialah : St. Taman Cibodas, St. G. Putri, St. Culamega, St. Goalpara, St. Perbawati, dan St. Situgunung.
Pemasangan pilar dan pengukuran deformasi metoda ungkit kering dilakukan sejak mulai bulan Maret 1989. Dari hasil pengukuran Mei 1992 dibandingkan Juli 1991 dari stasiun deformasi yang jaraknya lebih dekat puncak menunjukan perubahan yang tidak berarti/relatif kecil.
Pengukuran deformasi cara ungkit kering (tilting) di sekitar G. T. Parahu untuk memperoleh data pengukuran deformasi, sejak tahun 1986 tidak dilakukan pengukuran dan keadaan aktivitasnya relatif menurun, sedangkan pada permulaan tahun 1992 jumlah gempa vulkaniknnya mulai meningkat, sehingga pada bulan Mei 1992 mulai dilakukan pengukuran deformasi kembali G. Tangkubanparahu, disertakan pengukura…
Pengukuran ungkit kering (dry tilting) di Gunung Cireme dimaksudkan untuk memperoleh data guna menunjang disiplin ilmu lain untuk mengetahui tingkat kegiatan gunung api tersebut.
Sehubungan dengan peningkatan peningkatan kegempaan G.T. Parahu pada akhir bulan September 1992, maka tim deformasi melakukan pengukuran konstante di St. Pos Vulkanologi dan St. Jayagiri serta pembuatan pelindung dan perbaikan 2 bensmark di St. Kawah Ratu