G. Tambora adalah merupakan salah satu gunungapi aktif tipe A yang termask dalam pemantauan Seksi Bali dan Nusa Tenggara, terletak di P. Sumbawa bagian Utara di wilayah Kabupaten Dompu. G. Tambora adalah salah satu gunungapi di dunia yang terkenal dengan sejarah letusannya yang dahsyat terjadi pada tahun 1815, dimana telah menimbulkan korban jiwa sebanyak lk.92.00 orang.
Maksud kegiatan lapangan yang dilakukan di G. Sangeangpi dan G. Lewotobi pada Juni 2000 adalah melakukan pengamatan dengan cara visual dan kegempaan. Pada kesempatan tersebut dimanfaatkan pula memelihara dan memperbaiki seismograf. Seismograf di G. Sangeangapi berhasil diperbaiki dan telah beroperasi dengan baik, sedangkan di Lewotobi belum berhasil karena tidak ada cadangan seismometer.
G. Rinjani terdapat di P. Lombok bagian utara, termasuk Propinsi Nusa Tenggara Barat, mencakup 3 Kabupaten yaitu Kab. Lombok Timur, Kab. Lomboh Tengah dan Kab. Lombok Barat. Puncak G. Rinjani memiliki ketinggian 3725 m diatas permukaan laut. Mempunyai kaladera berukuran 4800 m x 3500 m dimana didalamnya terdapat danau berukuran 2800 x 2400 m. Di sebelah timur danau terdapat kerucut muda G. Baru…
G. Inelika merupakan salah satu gunungapi aktif tipe A yang berada di Pulau Flores, terdapat di Kabupaten Ngada (Bajawa), Flores Tengah, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Tinggi puncaknya 1559 m diatas muka laut, letaknya sekitar 5 km sebelah utara Kota Bajawa ke arah Soa. Berdasarkan catatan sejarah, satu-satunya letusan yang terjadi pada Novemver 1905, letusan berlangsung 5 jam, sifat letusannya …
Berdasarkan data geologi bahwa pusat letusan G. Raung pada pra-sejarah berpindah pindah, masing masing berurutan dari G. Wates, G. Pajuaran, G.Pajungan dan G. Raung. Di periode kegiatan G.Pajungan, pernah terjadi suatu letusan besar, disertai dengan longsoroan besar yang melanda bagian lereng barat G. Raung (Sutawidjaja dkk., 1987).
G. Galunggung termasuk kedalam wilayah kabupaten Tasikmalaya, propinsi Jawa Barat. Tinggi puncak G. Galunggung 2168 m diatas permukaan laut. Antara tahun 1800 sampai tahun 2000 gunung ini sudah mengalami letusan besar beberapa kali, yaitu tahun-tahun 1842, 1853, 1896, 1920, 1924, dan terakhir tahun 1982-1983.
Selama pengamatan kami disana dari pertengahan Juni sampai dengan akhir Juni 1997, G. Rokatenda tampak jelas, asap Solfatara tampak umumnya berwarna putih tipis dengan tekanan gas lemah lk. 20 meter dari atas puncak. Sedangkan pengamatan gempa G. Rokatenda dilakukan dengan menggunakan Seismograf Kinemetrics PS-2 sistem radio telemetri (RTS).
Gunung Ciremai adalah salah atu gunungapi aktif di Jawa Barat, yang merupakan batas antara Kabupaten Cirebon, Kuningan dan majalengka. Letusan terakhir terjadi dalam tahun 1937/1938, kegiatan letusan berlangsung 24 Juni 1937 hingga 7 Januari 1938. Pusat letusan dari kawah Sentral. Sebaran abu hasil letusan 1937/1938 ialah daerah seluas lk. 52,500 km2 (Kusumadinata 1971)
Maksud dan tujuan pemasangan seismograf telemetri radio adalah untuk menunjang perolehan data gempabumi khususnya gempabumi vulkanik, mengingat data gempabumi vulkanik merupakan dasar dalam menentukan tingkat kegiatan gunungapi. Data gempabumi vulkanik dapat memberi gambaran tentang tingkat kegiatan vulkanik pra-erupsi.
Pengamatan kegempaan G. Sangeang Api dimonitor dengan seperangkat seismograph sistem radio pancar RTS (Radio Telemetry Seismograph) Jenis MEQ-800, namun dalam beberapa bulan terakhir ini terjadi kerusakan yang dapat terjadi akibat gangguan dari luar (alam, manusia, dll) maupun dari alatnya itu sendiri (faktor usia alat hampir lk, 11 tahun). Dan memang kami dapati beberapa bagian alat yang rusak…