Pemetaan zona risiko bahaya G.Kelut dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkatan risiko yang timbul sebagai akibat bahaya G.Kelut dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
Penyelidikan dilakukan terpadu mekanisme G.Merapi untuk memantau, mengamati, dan penanggulangan aktivitas G.Merapi dan sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Alam Gunungapi Direktorat Vulkanologi. Penyelidikan terpadu G. Merapi meliputi kelompok kerja kimia/cospec; seismik/magnet; deformasi/visual, dan kelompok kerja geologi/laharan.
Penyelidikan dilakukan terpadu mekanisme G.Merapi untuk memantau, mengamati, dan penanggulangan aktivitas G.Merapi dan sekaligus berfungsi sebagai Laboratorium Alam Gunungapi Direktorat Vulkanologi. Penyelidikan terpadu G.Merapi meliputi kelompok keja kimia/cospec; seismik/magnet; deformasi/visual, dan kelompok kerja geologi/laharan.
Dalam membantu dalam penentuan batas sebaran awan panas dan penghitungan daya tampung K. Bedog digunakan altimeter saku, penduga jarak (range finder), kompas geologi, pita ukur serta kamera untuk kelengkapan dokumentasi.
Pemetaan zona risiko bahaya G.Guntur dimaksudkan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum tentang tingkat risiko yang timbul sebagai akibat bahaya letusan G.Guntur dan pengembangan pembangunan di kawasan gunungapi ini.
A rain-triggered lahar occured in K.Boyong (Southern slope of Merapi volcano) on 19 February 1995. This lahar was the biggest in this channel since 22 November, 1994 Merapi eruption which left more than 2 million cubic meters of pyroclastic flow deposits as far as 6 km from the summit.
Telah dilakukan pemantauan Gunung Merapi secara terpadu dari berbagai bidang yang ada di Seksi Penyelidikan Gunung Merapi pada bulan September 1995. Kegiatan utama bidang geokimia yaitu pengambilan gas vulkanik, kondensat, dan pengukuran temperatur di Puncak Gunung Merapi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tatanan geologi daerah penelitian sehingga dapat diketahui evolusi pembentukan kompleks Gunungapi Merbabu secara geologi, dengan menggunakan berbagai data yang menunjang berupa pengamatan geologi langsung (lapangan), data pengamatan tak langsung (analisis foto udara), serta ditunjang dengan analisis laboratorium dan studio.
Pekerjaan lapangan ini dimaksudkan untuk mempersiapkan penyusunan buku panduan ekskursi daerah sekitar Gunung Merapi khususnya daerah lereng selatan. Adapun tujuannya adalah untuk mengenal dan mengetahui jenis endapan piroklastik Gunung Merapi khususnya yang berada di lereng selatan Gunung Merapi.
Dalam mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang berwawasan lingkungan di daerah bahaya gunungapi, maka salah sat usaha dalam mengevaluasinya adalah dengan melakukan analisa risiko di daerah berbahaya terhadap objek - objek bencana. Hasil analisa tersebut akan tercerminkan pada Peta Zona Risiko Bahaya Gunungapi. Peta ini selain dapat digunakan dalam mengevaluasi tata ruang, juga dapat dimanfaatkan u…