Pada tanggal 17 Juli 1990 bedasarkan SPPD No. 583/0441/3402/1990 dan No. 620/0441/3402/1990 Agus Karim dan A. Djadja Sumpena ditugaskan ke G-Kaba untuk melakukan pengukuran topografi puncak gunung tersebut. G. Kaba di Sumatra termasuk kedalam wilayah Kabupaten Rejanglebong Propinsi Bengkulu. Posisi geografinya terletak pada 4° 02 lintang selatan dan 103° 08 bujur timur
Pada 4 Juni 1980 dengan SPJ n. 262/P/1980, n.263/P/1980, dan n. 264/P/1980. A.D. Sumpena, sdr.S. Wikartadipura dan saya ditugaskan ke tiga gunungapi di sumatra, diantaranya ke G. Kunyit untuk melakukan pemeriksaan puncak dan pemetaan daerah bahayanya.
Survei Gunung Sumbing ini mencakup pemeriksaan puncaknya, (kawah kegiatan) dan pemetaan daerah bahaya sekelilingnya. Pemetaan daerah bahaya ini dimaksudkan untuk mengetahui serta membatasi daerah yang dapat terkena bahan letusan secara langsung maupun tidak, pada waktu terjadinya letusan.
Pada Oktober tahun 1975, S. Hamidi B.Sc ( sekarang Kepala Seksi Penanggulangan Bahaya). A.R. Sumailani dan Sadjiman ( karyawan Subdit Laboratotium G. Api) telah mengadakan penyelidikan ke Gunung Tutung ( G. Peuet Sague). Tim ini mengadakan penyelidikan dan pembuatan peta bagan situasi puncak Gunung Peuet Sague. Pengukuran topografi puncak dilaksanakan dari tanggal 23 September sd 16 November 19…
Pada 25 Juni 1981, dengan SPPJ n. 761/P/1981, n. 762/P/1981, dan n.888/P/1981, S.Wikartadipura, M.S.Santoso dan A.D. Sumpena ditugaskan ke G.Salak Jawa Barat untuk melakukan pemeriksaan puncak dan pemetaan daerah bahayanya.
Kegiatan yang dilakukan pada pemeriksaan puncak kali ini adalah, mengambil conto pasir pada setiap kawah, conto batuan, conto tanaman, pengukuran suhu fumarola/solfatara, pemeriksaan keadaan kawah sekarang serta pengambilan foto - foto.
Dengan maksud untuk mengetahui untuk mengetahui adanya perubahan akibat kegiatan Gunung Slamet pada waktu ini dibandingkan dengan sebelumnya, perlu dilakukan pendakian ke puncak G. Slamet belum diamati secara tahap sehingga dengan adanya pemeriksaan secara periodik dapat diikuti perkembangan kegiatannya.
Bertitik tolak dari berita yang dimuat dalam B.D.G no.22, tahun ke VII edisi Juli (1976), oleh Kepala Bagian Proyek WASAPI berdasarkan laporan dari pos pengawasan Kawah Ijen di Paltuding, menyatakan bahwa G. Raung meletus pada tgl 2-8 Juni 1976.
Untuk melaksanakan pemetaan topografi penulis menggunakan jalan dari Kp. Gunungputri/Cipanas, sebabnya adalah: a)Waktu perjalanan relatif tidak terlalu lama b) Pembantu lapangan tidak terlalu mahal c) Perjalanan tepat mencapai lokasi "Base camp" yang direncanakan.
Gunung Papandayan terletak dalam deretan gunungapi Priangan Selatan, hampir tepat sebelah selatan G.Guntur dan dihubungkan dengan tetangganya sebelah timur G.Cikuray yang menjulang tinggi puncaknya berbentuk kerucut.