Pekerjaan lapangan ini dititik beratkan pada pengumpulan data perkembangan kependudukan yang terletak di dalam daerah bahaya akibat G. Guntur, serta penentuan tempat untuk menyelamatkan diri dan jalur yang harus ditempuh.
Dari sejarah letusan G.Slamet yang tercatat mulai tahun 1772 sampai tahun 1992, letusan yang terjadi hanya berupa letusan abu, letusan lava pijar dan peningkatan kegiatan seismik ( Kusumadinata, 1979).
Penyuluhan di Kabupaten Lumajang bagi para Aparat Pemerintah di tingkat Kabupaten, Kecamatan dan Desa selain instansi yang terkait dan organisasi non - pemerintah. Bimbingan digabung dengan pelaksanaan yang dilakukan bersama Departemen Pekerjaan Umum, Sabo Technical Centre, serta Pemerintah Daerah menjelaskan bahan galian gol C. di dalam kantong lahar.
Seksi Pemetaan Topografi, Sub. Dit. Pemetaan gunungapi tahun anggaran 1994/1995 pada sesion kedua melakukan Pemetaan Situasi Topografi Puncak G. Arjuna-Welirang di Jawa Timur. Tujuannya untuk mendapatkan/membuat Peta Situasi Topografi Puncak G. Arjuna-Welirang guna menunjang berbagai disiplin ilmu dilingkungan Direktorat Vulkanologi dalam rangka Penelitian/Pemetaan geologi/Pemetaan daerah bahay…
Dari beberapa pemantauan visual yang dilakukan di G.Semeru, salah satunya adalah pemantauan lidah/kubah lava di puncak. Kemudian, dilakukan juga perbaikan seismograf yang rusak dan pembenahan lokasi pemasangan seismometer.
Dalam mengetahui situasi Komplek G.Dieng selama Januari - November 1994 ini, dilakukan evaluasi kegiatan vulkanik dataran tinggi Dieng selama waktu tersebut. ditinjau dari pengamatan visual, pemeriksaan kawah/lapangan fumarola serta kegempaan.
Penyuluhan bahaya G.Guntur di Kabupaten Garut, dilaksanakan pada tanggal 12 September 1994 bertempat di Pendopo Pembantu Wilayah II Tarogong, Kabupaten Daerah Tingkat II Garut, Provinsi Jawa Barat.
Gunung Merapi merupakan salah satu gunungapi yang paling aktif di Indonesia, maka dilakukan studi kaitan komposisi kimia gas dan emisi gas SO2 dengan aktifitas Gunung Merapi. Hasil penyelidikan menunjukkan bahwa terdapat kaitan antara komposisi gas dan emisi gas SO2 dengan aktivitas Gunung Merapi.
Maksud pemetaan situasi adalah melakukan serangkaian pengukuran dengan tujuan mendapatkan peta situasi topografi puncak sehingga dapat memberikan informasi situasi puncak saat ini dengan harapan dapat menunjang berbagai disiplin ilmu dalam rangka penelitian guna pengamatan & peramalan suatu letusan dilingkungan Direktorat Vulkanologi.
Deformasi sebagai salah satu metode monitoring yang diterapkan di G.Merapi, dituntut untuk bisa memberikan data secara teratur dan menerus agar bisa memberikan masukan untuk interpretasi aktivitas G. Merapi secara lebih baik.