Letusan G. Galunggung dapat mengakibatkan bahaya primer yakni bahaya langsung pada waktu letusan terjadi dan bahaya sekunder yakni bahaya sebagai akibat setelah letusan.
Dalam tahun anggaran 1982/1983, Seksi Penginderaan Jauh Sub Direktorat Pemetaan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, akan melaksanakan pengecekan data geologi Gunung Salak, Jawa Barat berdasarkan tafsiran cira landsat dan potret udara.
Laporan Pendahuluan Tentang Ancaman Lahar Dingin G. Galunggung ini disusun untuk memenuhi perintah kerja dari Bapak Sekretaris Pengendalian Operasi Pembangunan yang mulai menghubungi PENAS tentang hal tersebuut pada tanggal 3 Agustus 1982.
Tulisan ini merupakan laporan kerja tim pemetaan geologi komplek Dieng tahap ke dua, yang berlangsung dari tanggal 1 s/d 31 Desember 1981.
Dengan maksud untuk mengetahui untuk mengetahui adanya perubahan akibat kegiatan Gunung Slamet pada waktu ini dibandingkan dengan sebelumnya, perlu dilakukan pendakian ke puncak G. Slamet belum diamati secara tahap sehingga dengan adanya pemeriksaan secara periodik dapat diikuti perkembangan kegiatannya.
Berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas dari Pimpinan Proyek Penyelidikan dan Pengamatan Gunungapi tanggal 23 Mei 1980 Nomor 150/P/80, kami bersama Sdr. Toha ditugaskan ke puncak Gunung Raung.
Berdasarkan Surat Perintah Perjalanan Dinas No.1880/P/80 tanggal 1 Desember 1980, penulis bersama dengan dua orang pengamat dari G. Merapi di Pos Babadan dan Plawangan ditugaskan untuk melakukan pemeriksaan kawah G. Merapi.
Sejak akhir 1978 daerah sekitar G. Lawu digoncang gempabumi makin hari makin sering dan makin besar kehebatannya (intensity).
Pengamatan kegiatan gunung Tangkubanprahu dilakukan secara tetap dari sebuah pos pengawasan yang terletak di tepi atas kawah Ratu bagian selatan pada ketinggian +2030 meter dari muka laut.
Gunung Wayang (2181m) terletak pada 7 derajat 12 1/2 1 lintang selatan dan 107 derajat38' bujur timur kira-kira 7,5 km sebelah tengggara kota Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.