Penyelidikan deformasi G. Semeru dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang adanya suatu aktivitas suatu gunungapi yang menimbulkan perubahan bentuk tubuh gunungapi dan perkembangan deformasinya juga untuk melengkapi titik - titik ukur yang telah ada sebelumnya di Argosuko agar pemantauan menjadi lebih efisien.
Awan panas letusan - letusan G. Semeru tanggal 3 Februari 1994 terjadi kearah selatan yaitu 11,5 km dan mengendap disepanjang sungai B.Kobokan dengan jumlah endapan kurang lebih 4,6 juta m3 dan 9 km kearah jalur sungai B. Kembar dengan jumlah endapan 1,7 juta m3.
Dalam menghitung jumlah endapan awanpanas dan volume kosong lembah sungainya, maka dilakukan pembuatan penampang melintang sepanjang Sungai B. Kembar dan Sungai B.Bang.
Dalam rangka meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan serta memberikan pengarahan - pengaahan kepada penduduk disekitar Daerah Bahaya G.Semeru yang di prakarsai oleh Pemda Lumajang, Direktorat Vulkanologi diundang untuk memberikan penjelasan tentang keadaan G. Semeru serta bahayanya.
Ciri erupsi G.Semeru sejak 1967 adalah letusan bertipe vulkanian - strombolian yang terjadi pada interval antara 20 menit sampai 1 jam. Erupsi yang besar disertai oleh aliran lava, awan panas, dan lahar. Aktifitas gunungapi ini diamati terus menerus oleh Direktorat Vulkanologi dari 3 Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yaitu Tawonsongo sebelah timur, di G. Sawur sebelah selatan dan di Argosuko sebe…
Sejak abad ke-19 G.Semeu sangat giat, letusannya berlangsung di kawah utama. Diketahui paling sedikit satu kali terjadi letusan samping disertai leleran lava. Semua ancaman bahaya terutama hanya mengarah ke timur dan selatan. Sebagian besar masuk dalam wilayah Kabupaten Lumajang.
Untuk menanggulangi bahaya primer sangat sulit, maka usaha penanggulangan yang dilaksanakan secara fisik adalah untuk menanggulangi bahaya sekunder. Prinsip penanggulangan bahaya sekunder dilaksanakan dengan menahan bagian besar material yang turun dengan pembuatan bangunan kendali banjir berupa Bendung Penahan Sedimen dan Konsolidasi DAM di daerah hulu.
Tujuan penyelidikan magnetik saat ini ditekankan pada analisa struktur, yang erat hubungannya dengan kondisi geologi G.Semeru. Hasil akhir dari model 2 dimensi strukur G. Semeru nantinya akan sangat membantu para pemeta gunungapi dalam menentukan struktur dalam G.Semeru dan kemungkinan evaluasi sejarah geologinya.
Materi yang diberikan pada kegiatan penyuluhan diantaranya berupa foto copy Buletin Khusus Edisi Direktorat Vulkanologi No.105 tentang ilmu kegunungapian, serta paparan tentang bahaya G.Semeru, dengan menggunakan transparant OHP, Slide serta pemutaran Film 16mm letusan G.Galunggung Th. 1982.
Pada 5 Oktober 1995, dilakukan pemerksaan Kawah Jonggring Seloko di Puncak G. Semeru. Dari hasil pemeriksaan tersebut terdapat perubahan dasar kawahnya jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan tahun 1994.