Pada tahun anggaran 1993/1994 ini Kelompok Kerja Deformasi telah mengajukan rencana kegiatan lapangan sebanyak 6 (enam kali), sehingga rata - rata setiap 2 bulan sekali naik ke puncak Merapi. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin kesinambungan data. Disamping itu, hal yang lebih penting adalah untuk mengetahui perkembangan terakhir aktivitas Merapi secara visual dari dekat.
Penerapan metode deformasi di Indonesia, khususnya di G.Merapi telah dimulai awal tahun delapan puluhan dengan menggunakan tiltmeter watertube, pengukuran dry - tilt dan pengukuran EDM.
Metoda deformasi sejak dua tahun terakhir ini diterapkan secara intensif sebagai metode monitoring di G.Merapi, yaitu dengan penerapan beberapa teknik pengukuran, seperti pengukuran EDM sejak 1988, tiltmeter, ekstensometer, dan GPS (Global Positioning Systems).