Perjalanan ke G. Merapi (Plawangan - Babadan) dilakukan selama 20 hari terhitung dari tanggal 26 Maret - 14 April 1959.
Berita interlokal tgl 25 Djuni 1957 dari Pusat Pendjagaan Merapi di Djokja kepada Pusat Djawatan Geologi di Bandung, melaporkan bahwa, G. Merapi tambah giat. Guguran - guguran benda - benda berapi dari puntjak Trising terus - menerus, turun ke Sektor Trising- Senowo.
Termasuk lanjutan pemintaan Kep. U.G.A Jogyakarta tgl 11 Mei 1954 No. 249/60/UGA/M/54 dan dengan surat perintah Kep. Djawatan Pertambangan Tjb. Jogjakarta tgl 17 Juli 1954 No. 116/Um, penulis mengerjakan Trianguleren di Pos U.G.A Krindjing.
Sehubungan dengan surat tugas No. 125/Um. tgl 28/8-1954 dari Kepala Cabang Djawatan Pertambangan Yogyakarta, beserta Sdr. Merkum maka kami mulai menyelenggarakan bunyi pasal 2 (Mengadakan peilingen ke bagian - bagian dari puncak), dari surat No. 249/60/UGA/M/54 tertanggal 11 Mei 1954 oleh Kepala U.G.A Yogyakarta.
The summit of G. Merapi is formed by a lava-plug; a cratershaped decline, such as the most volcanoes possess, is not present. However it is known,-thanks to the many interest, with which the G. Herapi in the pant century obtained, that the volcano in another stage of eruptive activity certainly owed such a cratershaped decline.
As already earlier mentioned the G. Herapi exists of two morphologic clearly to be distinguished parts, an older eastern and a younger western part. From the sunnit of the old ringdike, only a small part remains (see portrait 14), of which the eastern part is named G. Pusunglondon (2694.3 a.s.) and the northern G. Paseban (2679= a.s.). The old volcano mantle of the G. Merapi has grown much more…
On October 12, 1920 the inhabitants of the most high laying kampungs in the vicinity of the Blongkengravine were surprised by hot dustclouds and were killed by the burns. It appeared inmediately, that there was no outburst at all, as the summit slopes of the Merapi were, as far as they were overgrown in August and September, were still green as before (the reports from news papers concerning th…
Penyelidikan geologi dan laharan yang dilakukan di lereng Baratdaya G.Merapi yang meliputi K. Senowo, K.Sat, K. Bebeng dan K.Krasak dimaksudkan untuk mengevaluasi sebaran awan panas dan lahar 1993 - 1994 serta endapan sebelumnya yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus 1993 - Mei 1994.
Status aktivitas G. Merapi pada triwulan I (April - Juni 1999) berada pada status "aktif normal" yang berlaku sejak pertengahan bulan Januari 1999, secara visual tercermin dengan asap solfatar berwarna putih tebal, tekanan lemah, tinggi asap maksimum berkisar antara 100 - 600 meter, kecuali pada tgl 11 Juni 1999 tinggi asap maksimum mencapai 1000 meter terukur dari Pos Pengamatan Selo pada jam …