Pada Juni 1996 satu Tim dari Direktorat Vulkanologi melakukan kunjungan ke G. Anak Krakatau untuk pemeriksaan dan perbaikan alat yang ditempatkan di lapangan. Sampai laporan ini diturunkan, G. Anak Krakatau masih menunjukkan Selatan yang kegiatan letusannya dengan tinggi berkisar antara 100 sampai dengan 800 m di atas kawah. Kegiatan tersebut dimulai sejak Nopember 1992 kemudian berhenti selama…
Adapun kunjungan kali ini ke anak Krakatau adalah dalam rangka pembuatan dokumentasi yang berkaitan dengan adanya aktivitas vulkanik saat ini, yang mana masih merupakan satu perioda aktivitas vulkanik sejak tahun 1992/1993 yang lalu. Dilihat dari gunungapi itu sendiri adalah merupakan aktivitas membangun tubuhnya.
Adapun kunjungan kali ini ke anak Krakatau adalah dalm rangka pembuatan dokumentasi yang berkaitan dengan adanya aktivitas vulkanik saat ini, yang mana masih merupakan suatu perioda aktivitas vulkanik sejak tahun 1992/1993 yang lalu. Dilihat dari gunungapi itu sendiri adalah merupakan aktivitas membangun tubuhnya.
Komplek G. Krakatau yang terletak di Selat Sunda, secara administrasi termasuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Propinsi Lampung, terdiri dari empat pulau, yaitu Pulau Rakata, Sertung, Panjang dan Anak Krakatau (Gambar 1). Pulau Anak Krakatau atau Gunung Anak Krakatau terletak di antara ketiga pulau tersebut, pada posisi geografi 60 06 05.8" LS dan 1050 25 22.3" BT dengan tinggi 199 m di atas…
Pemetaan daerah bahaya G. Krakatau dimaksudkan untuk menyusun peta daerah bahaya gunungapi tersebut dalam rangka menghadapi letusan besar seperti yang terjadi pada 1883 dan sebelumnya. Karena pada letusan 1883 korban jiwa dan harta benda terutama oleh tsunami (gelombang pasang air laut) maka peta yang dihasilkan adalah peta daerah bahaya tsunami.
Atas perintah jawatan Geologi Bandung ( surat ttg. 25-9-1952 no : 543) dan dengan persetujuan jawatan pertambangan cabang Yogyakarta ( srt. ttg. 13-10-1952 no: 220/um) dilakukan penindjauan / pengukuran oleh Sudarmo & Merto.
Selat Sunda terletak di zona transisi antara dua tipe subduksi yang berbeda : subduksi normal di sebelah selatan P. Jawa dan subduksi miring di sebelah barat P. Sumatera. Implikasi dari posisi tersebut, derah di sekitar Selat Sunda dipertimbangkan sebagai salah satu kunci untuk memahami proses-proses geodinamika yang sedang berlangsung di bagian barat kepulauan Indonesia.