Pada saat erupsi, sejumlah besar magma mengalir dari suatu kedalaman ke permukaan dalam bentuk lava maupun dalam bentuk material letusan lain. Proses naiknya magma ke permukaan mempengaruhi tubuh gunung Merapi, paling tidak perkembangan tekanan magma ke permukaan mempengaruhi tubuh gunung Merapi, paling tidak perkembangan tekanan magma pada suatu kedalaman tertentu akan memberikan efek penggemb…
Kerjasama antara indonesia dengan amerika serikat c.q Direktorat Vulkanologi dengan USGS (United State Geological Survey) telah dimulai pada awal dekade 80 an, dengan memberi bantuan tenaga ahli sebagai konsultan untuk mitigasi bencana letusan gunungapi serta bantuan peralatan monitoring modern pada saat itu. Pada saat itu penanganan G. Merapi sudah mendapatkan perhatian utama dalam kerjasama t…
Sistem telemetri tiltmeter di G. Merapi merupakan hasil kerjasama antara direktorat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi c.q BPPTK dengan United Stated Geological Survay (USGS/VDAP). Sistim telemetri tiltmeter ini terdiri dari 4 (empat) unit stasiun yang telah terpasang di puncak dan lereng G. Merapi pada awal Juli 2003.
Data tilt yang dipasang di puncak G.Merapi memperlihatkan variasi data yang berhubungan dengan kejadian awan panas dimana sebelumnya terjadi awan panas terlihat adanya inflasi sebesar 20 - 30 mikroradian/hari selama sekitar seminggu. Disamping itu, kelompok kerja deformasi merencanakan memasang alat ektensometer di puncak G.Merapi, sebelah timur kubah lava untuk melengkapi alat deformasi penguk…
Penerapan metode deformasi di Indonesia, khususnya di G.Merapi telah dimulai awal tahun delapan puluhan dengan menggunakan tiltmeter watertube, pengukuran dry - tilt dan pengukuran EDM.
Metoda deformasi sejak dua tahun terakhir ini diterapkan secara intensif sebagai metode monitoring di G.Merapi, yaitu dengan penerapan beberapa teknik pengukuran, seperti pengukuran EDM sejak 1988, tiltmeter, ekstensometer, dan GPS (Global Positioning Systems).
Deformasi pada tubuh gunungapi yang disebabkan oleh kegiatan magma yang berada dibawahnya. Hal ini diasumsikan berbentuk bola didalam media semi elastik yang menekan kesegala arah sehingga mampu mendorong tubuh gunungpi. Deformasi pada tubuh gunungapi biasanya terjadi sebelum letusan (inflasi) atau setelah letusan (deflasi).