Situasi puncak G.Merapi dipetakan oleh Sdr. Harto pada tahun 1962. Diduga sampai dengan tahun 1979 sudah banyak perobahan - perobahan topografinya , terutama pada kubah lava bagian barat daya puncak yang berarah ke jurang Kali Batang. Dengan adanya perobahan topografi tersebut, maka situasi puncak G.Merapi perlu diukur kembali untuk membuat peta topografi puncak baru.
Pemeriksaan G.Sleamet berupa pengukuran suhu dan melihat keadaan kawah untuk mengetahui kegiatan gunungapi pada waktu ini dibandingkan dengan sebelumnya. Adapun alat yang dipakai dalam pemeriksaan ini diantaranya sebuah teropong, dua buah thermometer maksimum 400'C, kompas dan peta topografi kawah G.Selamet
Laporan pemeriksaan puncak Gunung Merapi meliputi pemeriksaan kawah seperti keadaan lerengg sebelah utara, lava dari tahun 1954-1957, Kawah Woro, dan Kawah Gendol, serta Lereng Gendol
Pada tanggal 7 Januari 1977 diketahui terdapat empat pilar yang telah dibagun di puncak merapi. Penugasan kali ini ilah melaksanakan pengukurannya. Pengukuran dilakukan pada musim kemarau untuk menghindari cuaca buruk
Kegiatan yang dilakukan pada pemeriksaan puncak kali ini adalah, mengambil conto pasir pada setiap kawah, conto batuan, conto tanaman, pengukuran suhu fumarola/solfatara, pemeriksaan keadaan kawah sekarang serta pengambilan foto - foto.
Pendakian puncak G. Semeru yang dilakukan mulai tanggal 20-8-1969, telah kembali dengan selamat pada tgl. 22/8-1969 djam 11.00, ketempat pemberangkatann yaitu pos Tawongsongo, djadi memakan waktu 2,5 hari.
Maksud pekerjaan ini adalah untuk mencukupi instruksi dari Kepala Dinas Gunung Berapi di Bandung untuk mengadakan pengukuran (topografis opname) didaerah kawah G.Kelud disebelah Barat.
Pada bulan Juni 1990 dilakukan pengamatan visual di sekitar kawah G.Slamet, pengamatan ini dimaksudkan untuk mengetahui dan membuktikan apakah ada hubungan antara rekaman gempa dengan kegiatan di sekitar kawah, yaitu dengan melakukan pendakian ke puncak G.Slamet.
Maksud dan tujuan pemetaan adalah membuat Peta Situasi Topografi Puncak/Kawah Gunung Tangkubanparahu, guna mengetahui bentuk topografi dan situasi disekitar puncak/kawah disamping perubahan bentuk kawah, bibir kawah, sehingga dapat menunjang berbagao disiplin ilmu, khususnya dilingkungan Diektorat Vulkanologi dalam rangka penelitian kegiatan gunung tersebut.