Selama pengamatan dari Pos PGA Ropa maupun dari P. Palue pada bulan September 1998 puncak G. Rokatenda pada umumnya tampak jelas, jarang tertutup kabut. Hembusan asap solfatara putih tipis dengan ketinggian lk. 30 m terlihat dipuncak. Sementara itu, setelah peralatan seismograf diperbaiki, tidak diperoleh data gempa, yang tercatat hanyalah getaran lain, seperti pohon tumbang dan lain sebagainya.
Untuk mengamati aktifitas G. Agung dilakukan dari 3 lokasi Pos Pengamatan, yaitu Pos Rendang terletak disebelah barat daya dari puncak, Batulompeh terletak disebelah utara dari puncak dan Budakeling terletak disebelah tenggara dari puncak. Pengamatan yang dilakukan adalah pengamatan visual, pemeriksaan kawah, dan pengamatan gempabumi.
Maksud kegiatan ini sebagai realisasi dari Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi NTB dan NTT sesuai dengan tugas dan fungsi Kanwil, untuk itu maka perlu dilakukan pemantauan untuk mengetahui antara lain sejauh mana penerapan Daerah Bahaya Gunungapi (Kawasan Rawan Bencana Gunungapi), kaitannya dengan pengembangan lingkungan pembangunan di sekitar gunungapi.
G. Rokatenda terakhir meletus tahun 1985, hal ini menunjukkan bahwa gunungapi ini tetap aktif yang ditunjukkan dengan adanya aktivitas fumarol dan solfatar, sehingga perlu diwaspadai karena bentuk dan posisinya yang dikelilingi oleh perkampungan dengan jumlah penduduknya mencapai 10.609 jiwa. Sebagian besar penduduk tersebut umumnya sulit atau keberatan untuk dipindahkan dengan alasan disamping…
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengumpulkan data - data geologi yang berhubungan dengan gunungapi tersebut yang didasarkan dari hasil penafsiran citra foto udara serta didukung dengan ceking/penelitian langsung di lapangan. Penelitian yang dilakukan meliputi aktivitas gunungapi tersebut, sebaran, posisi dan jenis batuan yang dihasilkan, morfologi yang dibangun dan struktur geologi yang berkem…
Letusan - letusan G. Batur dalam 1994 - 1995 bersifat eksplosive disertai lontaran material pijar dan menghasilkan kawah baru (Kawah 1994). Kemudian letusan 8 November 1997 hanya berupa letusan - letusan gas kering dari dalam Kawah Batur III. Kemudian pada 2 Juni 1998 pusat letusan berpindah dari Kawah Batur III, menghasilkan kawah baru (Kawah 1998).