Dari Pelapukan Granit ke Bauksit dan Unsur Tanah Jarang: Peluang Sumber Daya Mineral di Bintan

Pulau Bintan, Kepulauan Riau, telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil bauksit di Indonesia. Namun, bauksit bukanlah produk yang muncul begitu saja. Ia merupakan hasil dari proses alam yang berlangsung sangat lama, ketika batuan granit perlahan dilapukkan oleh iklim tropis yang basah dan hangat. Proses geologi yang mengontrol pembentukan bauksit sekaligus perilaku unsur-unsur kritis seperti unsur tanah jarang (rare earth elements/REE) di wilayah ini belum banyak dikaji secara rinci.

Sebuah survei yang dilakukan oleh peneliti Pusat Survei Geologi (PSG) – Badan Geologi bersama mitra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN )mengungkap bagaimana pelapukan intensif granit tipe-I di kawasan Gunung Kijang, Pulau Bintan, tidak hanya menghasilkan pengayaan aluminium (bauxitisasi), tetapi juga mengatur ulang distribusi REE pada profil pelapukan.

Ketika Granit Tropis Mengalami Pelapukan Ekstrem

Di kawasan Gunung Kijang, granit menjadi batuan induk yang terpapar hujan tinggi dan sirkulasi air tanah yang aktif. Selama jutaan tahun, air hujan melarutkan unsur-unsur yang mudah tercuci, meninggalkan sisa batuan yang semakin kaya aluminium dan besi. Proses inilah yang membentuk lapisan tanah dan laterit khas daerah tropis.

Batuan induk di lokasi penelitian berupa granit tipe-I metaluminus yang termasuk dalam Eastern Granite Province Asia Tenggara. Secara geokimia, granit ini didominasi oleh SiO₂ (~69%), dengan kandungan Al₂O₃ dan Fe₂O₃ yang lebih rendah, mencerminkan kondisi batuan segar. Namun, di bawah pengaruh iklim tropis lembap Bintan—curah hujan tinggi, suhu hangat, dan sirkulasi air tanah aktif—granit tersebut mengalami pelapukan kimia sangat intensif. Proses ini membentuk profil pelapukan berlapis yang terdiri atas:

  • saprolit
  • laterit bawah
  • laterit tengah
  • laterit atas
  • tanah penutup

Ke arah permukaan, kandungan silika menurun drastis, sedangkan aluminium dan besi meningkat tajam. Kandungan Al₂O₃ bahkan mencapai ~46%, yang menunjukkan terjadinya proses bauxitisasi kuat.

Dari Pelapukan Menjadi Bauksit

Pelapukan yang terus berlanjut membentuk profil berlapis dari bagian bawah hingga ke permukaan. Kandungan silika berkurang drastis, sementara aluminium meningkat hingga mencapai kadar yang mencirikan bauksit. Angka-angka geokimia menunjukkan bahwa pelapukan di Bintan berlangsung sangat intens, bukan sekadar perubahan ringan pada batuan.

Derajat pelapukan diukur menggunakan Chemical Index of Alteration (CIA).

  • Granit segar: CIA ~46 (pelapukan rendah)
  • Zona lapuk: CIA ~99 (pelapukan sangat kuat)

Nilai ini menandakan bahwa hampir seluruh kation mudah larut (Ca, Na, K) telah tercuci, menyisakan mineral lempung kaya aluminium—ciri khas pembentukan bauksit dan kaolin.

Menariknya, total REE pada batuan segar relatif tinggi (~214 ppm), tetapi pada zona lapuk menurun (27–76 ppm).

Meski kadarnya turun, penelitian menunjukkan beberapa fakta penting:

  • REE terikat terutama pada mineral lempung (clay minerals)
  • Zona dekat permukaan yang lunak dan mudah digali berpotensi lebih ekonomis untuk ekstraksi
  • Bahan organik membantu migrasi dan akumulasi REE di horizon atas

Karakter ini menyerupai endapan tipe ion-adsorption, yang saat ini menjadi target penting eksplorasi REE global karena proses pengolahannya relatif sederhana dibandingkan batuan keras.

Dengan meningkatnya kebutuhan REE untuk teknologi energi bersih, baterai, dan elektronik, temuan ini membuka peluang baru bahwa zona pelapukan granit tropis Indonesia dapat menjadi sumber daya strategis masa depan.

Implikasi Geologi dan Sumber Daya Unsur Tanah Jarang

Selain menghasilkan bauksit, pelapukan granit juga mengatur ulang keberadaan unsur tanah jarang. Unsur-unsur ini tidak terkumpul dalam jumlah besar, tetapi sebagian terikat pada mineral lempung di lapisan atas yang lunak dan mudah dijangkau. Hasil studi ini menegaskan bahwa pelapukan tropis dapat mengubah granit menjadi bauksit ekonomis. Kemudian, pelapukan tersebut menyebabkan redistribusi unsur kritis seperti REE. Profil ini berada di permukaan yang tidak memerlukan biaya penggalian sehingga berpotensi menjadi target eksplorasi mineral kritis. Studi ini mempertegas bahwa pelapukan bukan sekadar proses degradasi batuan, tetapi juga mekanisme pembentukan cebakan mineral.

Penelitian ini sejalan langsung dengan tugas dan fungsi Pusat Survei Geologi (PSG) dalam melaksanakan survei, pemetaan, penelitian, serta evaluasi potensi sumber daya geologi nasional. Kajian geokimia pelapukan dan karakterisasi profil laterit seperti di Bintan ini menjadi dasar ilmiah untuk pemetaan potensi bauksit dan mineral ikutan, sebagai informasi awal eksplorasi unsur tanah jarang sebagai mineral kritis, dan menjadi referensi kebijakan pemerintah dalam diversifikasi komoditas strategis nasional.

Versi lengkap dari artikel ini dapat diunduh pada link berikut

(https://journals.itb.ac.id/index.php/jmfs/article/view/23273)

                              

Penulis                         : Ronaldo Irzon

Penyunting                  : Tim Scientific Board - PSG 



Ikuti Berita Kami