Gunung guntur merupakan salah satu gunungapi aktif yang termasuk kedalam tipe A yang berada di indonesia, secara administratif terletak di wilayah kabupaten Garut,Propinsi Jawa Barat dengan puncak tertinggi 2249 m dpl. Gunungapi ini dibangun oleh hasil erupsi eksplosif dan efusif masa lampau yang berupa bom vulkanik, lapili, pasir hingga abu, endapan awan panas serta leleran lava.
Gunungapi slamet merupakan gunungapi tertinggi di Provinsi Jawa Tengah dengan ketinggian kira kira 3432 meter diatas permukaan laut. Berbentuk kerucut dan tampak simetris apabila terlihat dari sebelah timur dan memanjang dari bagian Utara dan Selatan, terletak di perbatasan Kabupaten Tk.II Pemalang, Brebes, Tegal, Banyumas dan Purbalingga.
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya bertanggung jawab untuk melakukan pengaatan, pemantauan dan penjagaan terhadap 129 gunungapi aktif di Indonesia melalui satu jaringan 68 pos pengamatan gunungapi.
Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (DVMBG), Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Departemen Energi Dan Sumber daya Mineral, memiliki wewenang untuk melakukan pengamatan, pemantauan dan penjagaan terhadap 129 ginungapi aktif di Indonesia melalui 68 pos pengamatan gunungapi.
sehubungan dengan telah terjadinya peningkatan kegempaan vulkanik di gunungapi ciremai sejak november 1999, yang selanjutnya perhatian pengamatan atau pemantauan lebih diperhatikan terhadap gunung ini yaitu dengan melakukan penelitian hypocenter dengan menggunakan seismograf digital 7 station.
Manifestasi di lapangan aktifitas vulkanik G.Sirung saat sekarang berupa kegiatan solfatara di dalam kawah - kawahnya, dibandingkan dengan data penelitian terdahulu tidak mengalami perubahan. Dari data visual seperti tinggi asap dan data hasil pengukuran suhu solfatara antara 1994 -1999, peningkatan aktifitas solfatara/kawah telah terjadi pada Oktober 1995, Juni dan Agustus 1997. Sedangkan dari…
Penyelidikan tahap III dilakukan selama 40 hari, mulai 9 Oktober sampai dengan 17 Nopember 1985, dikerjakan oleh satu tim pemeta yang terdiri dari A. Zaennudin, Isya N. Dana, Rudy D. Hadisantono, dan Deden Wahyudin. Pemetaan tersebut meliputi pengumpulan data geologi, berupa stratigrafi, struktur geologi dan penyebaran hasil kegiatannya.
Pengamatan visual ini tidak dilakukan pada seluruh kawah yang ada di Komplek Dieng, melainkan hanya dipilih pada delapan kawah yang cukup aktif yang ada pada lokasi Daerah Bahaya dan satu kawah di Daerah Waspada.
Beberapa upaya dalam menanggulangi letusan G.Semeru antara lain sebagai berikut : (1) Pemantauan yang kontinu seperti seismik, visual, dan cuaca (2) Pembuatan Peta Daerah Bahaya G.Semeru dan Peta Daerah Pengungsian yang aman (3) Pembuatan bangunan pengendali lahar, seperti tanggul pengendali, tanggul penahan, dan kantong - kantong lahar, dan (4) Bimbingan dan Penyuluhan kepada aparat Pemda sete…
Ciri erupsi G.Semeru sejak 1967 adalah letusan bertipe vulkanian - strombolian yang terjadi pada interval antara 20 menit sampai 1 jam. Erupsi yang besar disertai oleh aliran lava, awan panas, dan lahar. Aktifitas gunungapi ini diamati terus menerus oleh Direktorat Vulkanologi dari 3 Pos Pengamatan Gunung Api (PGA) yaitu Tawonsongo sebelah timur, di G. Sawur sebelah selatan dan di Argosuko sebe…