Pada 3 Januari 1990 telah diberangkatkan satu tim pemetaan gunungapi ke G.Awu, P. Sangir Besar, Kabupaten daerah bahaya Sangir Talaud, Propinsi Sulawesi Utara. Regu pemeta terdiri dari dua orang petugas yaitu S.Dirasutisna (No.SPPD 941/0441/3402/89) dan A.Martono (No-SPPD 942/0441/3402/89). Pekerjaan lapangan dilaksanakan selama 50 (lima puluh) hari termasuk perjalanan selama 6 hari.
Sebagai realisasi rencana kerja Proyek Pengamatan/Pe-anggaran 1993/1994 ngawasan dan Pemetaan Gunungapi tahunan pada tanggal 8 Mei 1993 diberangkatkan Ato Djuhara dan Agus Martono dengan SPPD masing-masing No. 330/0441/3402/93 dan 331/0441/3402/93 ke G. Pui atau G. Meja selama 34 hari termasuk perjalanan. G. Pui menurut penduduk setempat namanya ialah G. Meja. G. Pui atau G. Meja yang merupakan…
Letusan yang tercatat dalam sejarah G. Slamet dimulai pada tahun 1772, dan yang terbaru terjadi pada tahun 1992. Sebagai gunungapi aktif yang termasuk klasifikasi tipe A, G. Slamet terletak pada suatu wilayah berpenduduk padat, bahkan merupakan gunungapi yang cakupan wilayahnya cukup luas yaitu meliputi 5 Kabupaten.
Atlas Geokimia Daerah Kalimantan Bagian Timur Laut untuk memberikan gambaran variasi unsur geokimia pada skala regional. Atlas ini merupakan review hasil penyelidikan geokimia sedimen sungai aktif yang telah dilaksanakan oleh proyek kerjasama antara Direktorat Sumberdaya Mineral (RI) dengan BRGM (Perancis) untuk mengevaluasi potensi mineral di daerah Kalimantan Bagian Timur Laut pada tahun 1982…
Sebagai gunungapi paling aktif di indonesia bahkan di dunia, G. Merapi telah banyak menarik banyak ilmuwan kebumian pada umumnya dan kegunungapian pada khususnya untuk mempelajari berbagai aspek tentang gunungapi tersebut. G.Merapi juga merupakan laboratorium alam kegunungapian dan salah satu Pos Pengamatan Gunungapi yang mempunyai peralatan monitoring paling lengkap di Indonesia.
Pemetaan kawasan rawan bencana gunungapi dimaksudkan untuk membuat batas-batas daerah yang kemungkinan dapat terlanda oleh erupsi gunungapi baik yang berupa bahaya langsung, maupun bahaya tidak langsung daerah bahaya G. Sumbing sebelumnya telah dipetakan oleh P. Kasturian dan A. Djuhara pada tahun 1981, lemudian diperbaharui oleh S. Hamidi, A. Djuhara dan A. Martono pada 1989.
Daerah gunungapi selain dapat menimbulkan bencana juga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di dalam masa pembangunan ini perlu kiranya dilakukan usaha untuk membantu penyusunan tata ruang dan tata guna lahan di daerah gunungapi sehingga manfaatnya bagi kesejahteraan hidup dapat dipergunakan seoptimal mungkin, namun risiko bahaya gunungapinya dapat ditekan seminimal mungkin.
Daerah gunungapi selain dapat menimbulkan bencana juga memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di dalam masa pembangunan ini perlu kiranya dilakukan usaha untuk membantu penyusunan tata ruang dan tata guna lahan di daerah gunungapi sehingga manfaatnya bagi kesejahteraan hidup dapat dipergunakan seoptimal mungkin, namun risiko bahaya gunungapinya dapat ditekan seminimal mungkin.
sebagaimana telah kita ketahui bahwa hingga saat ini klasifikasi tipe gunungapi indonesia dibagi dalam tiga jenis yaitu tipe A, tipe B dan Tipe C. Dari klasifikasi tersebut ada 67 buah gunungapi aktif yang disebut tipe A,, diantaranya 17 di jawa, (kusumadinata, 1979). Menurut kusumadinata (1979) bahwa berdasarkan penyelidikan masih terdapat 8 buah gunungapi tipe A yang belum dibahas karena sebe…
Pemetaan zona risiko bahaya G. Agung ini ditujukan untuk memberikan layanan informasi kepada Pemerintah Daerah setempat dan masyarakat umum mengenai tingkatan risiko yang mungkin timbul sebagai akibat bahaya G. Agung. Informasi tingkatan risiko bahaya G. Agung di suatu wilayah itu dipandang penting sebagai dasar pertimbangan bagi pengembangan pembangunan di daerah tersebut.