Pada waktu pembangunan negara Republik Indonesia sedang giat dilaksanakan (1987) Kepulauan Banda ini mulai dipromosikan sebagai obyek pariwisata karena keindahan alamnya terutama tumbuhan dan binatang laut. Begitu pula peninggalan sejarah dan kesenian daerah setempat. Di balik keindahan alam yang menakjubkan itu, masih ada obyek yang tidak kalah penting yakni sebuah kerucut gunungapi aktif.
Ada 63 gunungapi dari 129 gunungapi di Indonesia yang mempunyai kaldera dan danau kawah. G. Ijen adalah salah satu dari 63 gunungapi tersebut, yang dicirikan oleh adanya danau kawah. Diameter danau kawah adalah kurang lebih 960 x 600 m, dengan kedalaman air danau kurang lebih 200 m, dan dibatasi oleh pematang kawah berketinggian antara 2145 m sampai 2386 m di atas permukaan laut.
Seismisitas G. Kelud pada umumnya diddominasi gempa tektonik jauh dan tektonik lokal. Gempa-gempa vulkanik sangat jarang terekam, hanya sekitar 3 kejadian per bulan. Sejak Agustus 2007 teramati ada peningkatan aktivitas yang ditandai dengan perubahan warna danau kawah dari hijau terang (dalam kondisi normal) menjadi kuning.
Seismisitas G. Kelud pada umumnya dengan dominasi gempa Tektonik Jauh dan Tektonik Lokal. Gempa-gempa vulkanik sangat jarang terekam, hanya sekitar 3 kejadian per bulan. Sejak Agustus 2007 teramati ada peningkatan aktivitas yang ditandai dengan perubahan warna danau kawah dari hijau terang (dalam kondiis normal) menjadi kuning.
Gunungapi Kelud merupakan gunungapi yang berdanau kawah. Kawah yang ada pada saat ini merupakan seri terbaru dari rangkaian pembentukan kawah Kelud sejak beberapa puluh ribu tahun yang lalu. Kawah ini menjadi pusat aktivitas letusan sampai saat ini. Secara statigrafi G. Kelud umumnya tersusun oleh batuan andesit dan endapan piroklastik batu apung dan lava basalt.
Penyelidikan deformasi G. Semeru dilakukan untuk mengetahui gambaran tentang adanya suatu aktivitas suatu gunungapi yang menimbulkan perubahan bentuk tubuh gunungapi dan perkembangan deformasinya juga untuk melengkapi titik - titik ukur yang telah ada sebelumnya di Argosuko agar pemantauan menjadi lebih efisien.
Dalam rangka penelitian deformasi di G. Papandayan ini, maka telah di buat 12 titik ukur di sekitar kawah dan tubuh gunung bagian timur dan timur laut. Pembuatan titik ukur ini dimaksudkan sebagai titik tetap baik untuk reflektor maupun instrumen dalam melakukan pengukuran EDM dan Leveling guna mengetahui deformasi yang terjadi baik di sekitar kawah maupun di sekitar gunungapi itu sendiri.
Penyelidikan deformasi G.Guntur dilakukan selama kurang lebih 1 bulan pada bulan Mei 1994, meliputi penyelidikan pembangunan titik ukur (bench mark), levelling/dry tilt, global positioning system, electronic distance measurement (edm), dan seismisitas G.Guntur.
Penulisan seri buku yang berjudul “Erupsi G. Kelud 2007” bertujuan untuk memberikan Gambaran tentang proses naiknya magma ke permukaan yang dipantau melalui beberapa metoda pemantauan antara lain metoda avisual, kegempaan, deformasi, dan kimia. Melalui data-data yang sudah diolah oleh para ahli Vulkanologi di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menghasilkan suatu informasi yang s…