Gunung Rinjani (3726 meter) salah satu gunung di Nusatenggara Barat yang masih digolongkan kedalam gunungapi yang aktip dan paling tinggi di Indonesia setelah Gunung Kerinci. Rencana semula untuk mengunjungi Gunung Rinjani ini pada tahun 1969, dalam rangka penelitian dan pemetaan daerah bahayanya. Berhubung pada waktu itu penulis baru datang menyelesaikan tugas berat ialah penelitian dan pemeta…
Maksud kegiatan ini sebagai realisasi dari Proyek Pengembangan Pertambangan dan Energi NTB dan NTT sesuai dengan tugas dan fungsi kanwil, untuk itu maka perlu dilakukan pemantauan/pengawasan untuk mengetahui antara lain sejauh mana penerapan daerah bahaya gunungapi (kawasan rawan bencana gunungapi), kaitannya dengan pengembangan lingkungan pembangunan di sekitar gunungapi.
Umumnya dalam pengamatan gempa memakai satu komponen seismogaf, pengolahan data dilakukan dengan metoda statistik. Hasil pengamatan gempa seperti jumlah kejadian gempa dan parameternya dituangkan dalam grafik terhadap waktu. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui turun atau naiknya parameter tersebut terhadap waktu yang diperkirakan berhubungan dengan perubahan kegiatan gunungapi. Pengolahan data…
Pengamatan secara visual dilakukan dari Pos Pengamatan Gunungapi G.Rinjani di Sembalun Lawang umumnya G. Rinjani tampak jelas, tetapi pada siang maupun sore hari terkadang terjadi kabut 0I - 0II. Selain itu, dilakukan juga pengamatan kegempaan menggunakan Seismograf Model PS-2 bersistem Radio Telemetri (RTS), dimana seismometer ditempatkan di lereng G. Rinjani daerah Padabalong dekat G. PLawang…
Pada bulan September 1995 Staf Pengamat Gunungapi dari Wilayah Bali dan Nusatenggara melakukan pengamatan terhadap G. Rinjani khususnya G. Barujari di dalam kaldera Rinjani. Pengamatan secara visual dilakukan dari Pos PGA G. Rinjani di Sembalun Lawang, umumnya G. Rinjani tampak jelas baik pagi, siang maupun sore hari, suhu udara berkisar antara 15-25 C dengan kelembaban antara 55% - 89% sedangk…
Tim pengumpulan bahan informasi ditugaskan ke daerah G. Rinjani dari tanggal 2 Juni 1995 sampai dengan tanggal 29 Juni 1995 dengan maksud untuk mengetahui perkembangan baik aspek sosial serta investasi lainnya maupun aspek kegunungapian setelah erupsi terakhir beberapa bulan yang lalu terutama bagi tempat - tempat yang berada di dalam wilayah Daerah Bahaya dan wilayah Daerah Waspada.
Berdasarkan sejarah letusan, aktifitas vulkanik (purna kaldera) G. Rinjani terjadi di dalam kaldera dengan menghasilkan G.Barujari dan G.Rombongan. Pereoda istirahat letusan antara 3 - 29 tahun. Produk erupsi G.Barujari dan Rombongan adalah endapan leleran lava dan jatuhan piroklastik, hal ini menunjukkan bahwa sifat erupsinya adalah esplosif dan efusif.
Pemetaan topografi di G.Barujari (G.Rinjani) yaitu untuk mendapatkan peta situasi topografi puncak yang baru guna menunjang berbagai disiplin ilmu dalam rangka penelitian guna peramalan letusan Gunung Barujari dilingkungan Direktorat Vulkanologi, serta mengevaluasi perubahan topografi akibat letusan di tahun lalu.
Seksi Pemetaan Topografi, Sub Direktorat Pemetaan Gunungapi dalam tahun anggaran 1995/1996 merencanakan melakukan Pemetaan Situasi Topografi Laharan G.Rinjani di Pulau Lombok, NTB. Sungai yang direncanakan yaitu Koko Putih, dimana sungai ini merupakan satu-satunya sungai yang berhulu dari kawah Danau Segara Anak G.Rinjani.
Komplek G. Rinjani terdapat di P.Lombok bagian utara, termasuk Prov. NTB, mencakup 3 (tiga) Kabupaten yaitu : Kab. Lombok Barat, Kab. Lombok Tengah, dan Kab. Lombok Timur. Peningkatan aktifitas G. Rinjani terjadi sejak tgl 4 Juni 1994 pkl. 02.00 WITA berupa suara dentuman dari arah kaldera, kemudian pada tgl 4 Juni 1994 pkl. 08.00 WITA teramati asap letusan berwarna hita, tebal dengan tinggi lk…