Sabtu (11/4) Museum Geologi kembal menggelar Sarasehan Geologi Populer (SGP) dengan tema “Close Up Minyak Bumi: Dari Fosil Menjadi Fuel”. Minyak bumi sebenarnya adalah sesuatu sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Pernahkah kita berpikir bagaimana minyak bumi terbentuk dan apa saja proses yang dialaminya sebelum menjadi bahan bakar yang kita gunakan? Mulai dari bahan bakar kendaraan, energi, sampai berbagai produk turunannya. Bertempat di Auditorium Museum Geologi, SGP ini bertujuan untuk belajar tentang proses terbentuknya Minyak Bumi, produk pemanfaatannya dan koleksi terkaitnya di Museum Geologi dengan cara yang ringan dan mudah dipahami.
Kepala Museum Geologi, Raden Isnu Hajar Sulistyawan dalam sambutannya menyampaikan bahwa SGP ini adalah upaya mensosialisasikan keberadaan minyak bumi, mulai dari proses terbentuknya hingga pemanfaatannya menjadi bahan bakar. “Seiring dengan kondisi geopolitik saat ini, semakin mendorong bangsa kita untuk mencapai kemandirian energi. Melalui saraseha ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa, pelajar dan generasi muda lainnya untuk melakukan riset terhadap potensi sumberdaya energi di Indonesia untuk kemandirian energi”, ujar Isnu.
Hadir sebagai narasumber dalam SGP ini adalah Fitriani Agustin, S.T., M.Sc., Penyelidik Bumi Ahli Madya Museum Geologi yang membawakan materi tentang pengelolaan dan pemanfaatan koleksi geologi sebagai media edukasi, dan mengajak audien mengenal lebih dekat koleksi minyak bumi yang ada di Museum Geologi. Narasumber lainnya adalah Muhammad Fahmi Firmansah Putra, S.T., Penyelidik Bumi Ahli Pertama Pusat Survei Geologi yang membawakan materi sesuai dengan keahliannya di bidang kebumian, khususnya terkait proses geologi yang membentuk sumber daya alam, termasuk minyak bumi. Ia menjelaskan bagaimana minyak bumi terbentuk, mulai dari sisa organisme purba hingga menjadi hidrokarbon yang bernilai ekonomis.
Museum Geologi berharap melalui SGP ini dapat menumbuhkan pola pikir kritis terkait isu energi, seperti keterbatasan sumber daya fosil dan pentingnya transisi menuju energi berkelanjutan. Dengan demikian, sarasehan ini tidak hanya menjadi ajang berbagi pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan diskusi yang mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap masa depan energi dan lingkungan.
Museum Geologi! Smart Museum, Smart People, Smart Museum.
Penulis: Anita Kusumayati, S.I.Kom.