Manusia hingga
kini masih memiliki keterbatasan untuk melihat secara langsung apa yang
tersembunyi jauh di bawah permukaan bumi. Padahal, di sanalah tersimpan
berbagai sumber daya strategis, termasuk minyak dan gas bumi yang berperan
penting dalam ketahanan energi nasional. Keterbatasan tersebut menuntut
pemahaman yang komprehensif dan holistik terhadap kondisi geologi bawah
permukaan, meskipun tidak dapat diamati secara kasat mata. Oleh karena itu,
teknologi seismik hadir sebagai “indra buatan” yang berfungsi layaknya telinga,
merekam dan menafsirkan pantulan gelombang dari kedalaman bumi untuk mengungkap
informasi geologi yang tersembunyi di bawah permukaan bumi secara ilmiah dan
terukur.
Untuk mendukung
ketahanan energi nasional, dibutuhkan pemahaman yang andal terhadap kondisi
geologi bawah permukaan. Cadangan minyak dan gas bumi, sebagai salah satu pilar
pasokan energi Indonesia, berada pada kedalaman dan konfigurasi geologi yang
tidak dapat diamati secara langsung. Cadangan minyak dan gas bumi merupakan
salah satu komponen dalam ketahanan dan kemandirian energi. Oleh karena itu,
teknologi seismik menjadi salah satu metode ilmiah paling efektif untuk
mengungkap struktur serta potensi sistem petroleum secara terukur, sistematis,
dan dapat dipertanggungjawabkan
Prinsip Kerja
Teknologi Seismik
Prinsip kerja
teknologi seismik sebenarnya dekat dengan pengalaman sehari-hari. Ketika
seseorang berteriak di dalam gua, pantulan suara yang kembali memberikan
gambaran mengenai bentuk ruang di dalamnya. Dengan pendekatan serupa, survei
seismik dilakukan dengan menembakkan gelombang energi ke dalam bumi melalui
sumber tertentu. Gelombang tersebut akan dipantulkan atau dibiaskan oleh
lapisan batuan yang memiliki perbedaan sifat fisik, seperti densitas dan
elastisitas.
Pantulan
gelombang yang kembali ke permukaan direkam oleh sensor seismik dan diolah
menjadi data waktu tempuh serta amplitudo. Melalui pemrosesan digital, data
tersebut kemudian ditransformasikan menjadi citra struktur bawah permukaan yang
menggambarkan lapisan batuan, jebakan hidrokarbon, maupun geometri reservoir.
Perkembangan
Teknologi Seismik Modern
Perkembangan
teknologi seismik modern telah meningkatkan efektivitas dan akurasi eksplorasi
minyak dan gas bumi. Metode seismik dua dimensi (2D) digunakan sebagai tahap
awal untuk memetakan struktur geologi regional melalui penampang bawah
permukaan sepanjang lintasan survei tertentu. Selanjutnya, seismik tiga dimensi
(3D) dikembangkan untuk menghasilkan visualisasi bawah permukaan secara
volumetrik dengan resolusi lebih tinggi, sehingga geometri reservoir dan
jebakan hidrokarbon dapat dipahami secara lebih menyeluruh. Pada tahap
produksi, seismik empat dimensi (4D) atau time-lapse seismic dimanfaatkan untuk
memantau perubahan kondisi reservoir dari waktu ke waktu (Kearey, dkk., 2002;
Yilmaz, 2001). Didukung oleh kemajuan komputasi berkecepatan tinggi dan perangkat
lunak pemrosesan digital, teknologi seismik modern mampu meningkatkan kualitas
citra bawah permukaan, menekan ketidakpastian interpretasi, serta mengurangi
risiko eksplorasi dan pengembangan lapangan migas.
Kemajuan perangkat komputasi berkecepatan tinggi dan algoritma pemrosesan mutakhir seperti pre-stack depth migration, full waveform inversion, dan machine learning-assisted interpretation memungkinkan citra seismik menjadi semakin tajam dan beresolusi tinggi. Hal ini membantu menurunkan ketidakpastian interpretasi dan meminimalkan risiko eksplorasi.
Peran Pusat
Survei Geologi
Dalam
menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai lembaga penyedia data geologi
nasional, Pusat Survei Geologi (PSG), Badan Geologi, memanfaatkan
teknologi seismik secara terpadu untuk mendukung penyelidikan potensi sumber
daya energi. Penerapan seismik dilakukan secara terintegrasi dengan:
Hasil integrasi
data tersebut dapat menjadi pondasi ilmiah dalam penyusunan rekomendasi
kebijakan teknis, penyediaan informasi sumber daya energi bagi pemerintah,
serta mendukung strategi eksplorasi migas nasional.
Dengan demikian, pemanfaatan teknologi seismik oleh PSG bukan hanya bagian dari kegiatan survei, tetapi juga bagian dari mandat institusi dalam menyediakan data dan informasi geologi untuk kepentingan pembangunan nasional.
Tantangan dan
Kontribusi bagi Ketahanan dan Kemandirian Energi
Pelaksanaan
survei seismik di Indonesia menghadapi tantangan yang tidak ringan.
Kompleksitas geologi Indonesia, bentang alam berupa laut dalam dan hutan lebat,
serta aktivitas tektonik dan vulkanik yang tinggi menuntut perencanaan survei
yang matang. Selain itu, aspek lingkungan dan sosial menjadi bagian penting
sehingga metode pelaksanaan survei harus mengedepankan prinsip kehati-hatian,
tanggung jawab, dan keberlanjutan.
Meskipun
demikian, teknologi seismik memberikan kontribusi strategis bagi ketahanan
energi nasional. Melalui data seismik yang berkualitas:
Dengan peran tersebut, teknologi seismik tidak hanya menjadi alat eksplorasi, tetapi juga fondasi ilmiah dalam penyusunan kebijakan energi dan penguatan kedaulatan energi Indonesia.
Penulis : Fikri Burhanuddin dan Asep
Rohiman
Penyunting : Tim Scientific Board - PSG