Mengingat ada beberapa seismograf di Wilayah Bali dan Nusatenggara mengalami kerusakan, yang salah satunya adalah di G.Leroboleng, sehingga Pimpinan Proyek Pengamatan/Pengawasan dan Pemetaan Gunungapi, Direktorat Vulkanologi, Bandung menetapkan langkah prioritas perbaikan seismograf. Tujuan ini dimaksudkan agar pemantauan kegempaan gunungapi dapat berfungsi.
Pengamatan gempa G.Rokatenda menggunakan seismograf telemetri model PS-2. Sub sistem pemancaranny yaitu seismometer, amplifier, vco, serta radio pancar berada di G.Rokatenda Pulau Palue, Kab. Sika lokasinya di Kp. Ona (lk. 2 km dari puncak), sedangkan subsistem penerima yaitu radio penerima, diskriminator dan rekorder berada di Pos Pengamatan, Kp. Ropa, di P.Flores, Kab. Ende.
Pada bulan Juni 1997 satu Tim dari Direktorat Vulakanologi melakukan pemeriksaan ke G.Anak Krakatau untuk pemantauan dan perbaikan alat yang ditempatkan di lapangan, setelah G.Anak Krakatau menunjukkan kegiatan letusannya lebih dari empat tahun, yaitu sejak November 1992 kemudian berhenti selama lk 8 bulan pada 1993 (Maret - Oktober 1993) dan berakhir pada Mei 1997. Tinggi letusan berkisar anta…
Untuk mengamati kegempaan G.Marapi digunakan seismograf jenis RTS PS-2 dan seismograf Hosaka sistem kabel. Seismometer kedua alat tersebut dipasang pada ketinggian kurang lebih 1600 dari permukaan laut. Stasiun penerima terletak di Pos PGA Batu Palano dan Pos PGA Bukittinggi.
Gunung Dempo merupakan gunung Kembar dengan gunung Merapi. Menurut sejarah letusannya gunung Dempo menunjukkan kegiatan terakhirnya pada 2 Oktober 1974. Kegiatan tersebut hanya merupakan letusan kecil yang menimbulkan hujan abu dan pasir bercampur belerang, tidak terdapat kerusakan yang berat dan tidak ada korban jiwa. Sejak itu gunung Dempo tetap aktif dalam keadaan normal.
Secara geografis G. Bur Ni Telong terletak pada 4°46' LU dan 96°48.5' BT dalam wilayah Aceh Tengah atau Takengon. Tinggi puncaknya dari permukaan laut 2624 m dan dari Lembah Tritit sekitar 1725 m. G. Bur Ni Telong atau disebut pula G. Tutong atau G. Bur Mutelong yang berarti "gunung terbakar" (bur ni artinya gunung dan telong artinya terbakar).