Geomagz Volume 1 No 3 Tahun 2011

Senin, 6 November 2023

KRAKATAU. Demikian nama gunung api kondang itu. Ia tumbuh di genting laut yang menghubungkan Pulau Jawa dan Pulau Sumatra. Terjadilah peristiwa yang sudah sangat dikenal, bahkan oleh mereka yang bukan ahli geologi sekalipun, bahwa pada 1883, tepatnya 27 Agustus 1883, Krakatau meletus dahsyat. Kekuatan letusannya mencapai 6 VEI (Volcanic Explosivity Index). Seorang ahli mengatakan bahwa letusan Krakatau 1883 setara dengan 1000 kali letusan Gunung Eyjafjallajokull di Eropa Utara pada April 2010. Letusan itu memporak-porandakan wilayah-wilayah pantai dari Banten, Lampung, hingga Jakarta. Lebih dari 36.000 korban meninggal akibat letusan tersebut dan tsunami yang ditimbulkannya. Jika Bumi ini diibaratkan manusia, Krakatau yang meletus dahsyat pada 1883 itu seakan sosok seorang lelaki yang meradang marah. Ia meluluh-lantakkan apa saja yang ada di hadapannya. Bumi pada saat seperti itu mungkin juga gambaran seorang ayah yang tanpa belas kasihan melaksanakan satu titah penghukuman atas kedurhakaan anak-anaknya. Namun, Bumi tak hanya tampil bak lelaki yang marah atau ayah sang penghukum. Ia juga menampakkan keindahannya nan memikat, bahkan memberikan manfaat yang melimpah ruah kepada manusia dan alam sekitarnya. Begitulah paradoks Bumi yang memiliki sifat Yin dan Yang sekaligus itu. Seperti Krakatau, gunung api dan bagian Bumi lainnya manakala mereka sedang istirahat adalah seorang ibu yang tangguh, pemaaf dan penyayang. Sebenarnya kita beruntung, karena Bumi dalam keadaan ramah seperti itu sesungguhnya adalah sosok bumi yang paling sering kita hadapi. Bumi yang berperilaku bak seorang ibu itu adalah Bumi untuk kesenangan dan kesejahteraan manusia. Namun, kita tidak boleh lengah, karena di antara waktu yang menyenangkan itu, Bumi terkadang mengamuk dan menumpahkan amarahnya. Geomagz Volume 1 Nomor 3, Juli-September 2011 kali ini memperingati ulang tahun ke 128 peristiwa letusan dahsyat Krakatau sambil menyajikan contoh-contoh lain dari adegan paradoks Bumi kita ini. Sebuah tulisan tentang perkembangan Gunung Anak Krakatau; dan tulisan lain tentang perkembangan kawah Gunung Galunggung, menyajikan tamsil seorang ibu yang sedang menumbuhkan sebuah gunung, sumber kehidupan di sekitarnya. Artikel tentang kawah meteor yang menampilkan betapa Bumi ini begitu rentan di suatu waktu, namun cukup mampu untuk tumbuh dan pulih kembali. Demikian pula, artikel tentang batubara dan nilai tambahnya menyajikan sosok ibu yang pemurah. Ia sediakan sumber daya alam untuk kesejahteraan manusia, penghuni Bumi. Adapun tulisan tentang Sodom dan Gomora, menampilkan fenomena bumi “yang murka”. Dari sisi agama, kita menyebutnya sebagai Bumi yang sedang menjalankan perintah Tuhan yang Maha Hakim menghukum suatu masyarakat karena pembangkangan atas perintah-Nya. Refleksi yang senada dapat kita tangkap dari tulisan tentang letusan Krakatau jauh di masa lalu (kemungkinan tahun 535 M) yang mengubah peradaban dunia. Profil Geomagz edisi kali ini menampilkan R.P. Koesoemadinata, profesor emeritus Geologi ITB, seorang tokoh geologi Indonesia yang juga disegani di tingkat internasional. Geomagz kali ini juga menampilkan foto-foto Letusan Krakatau masa kini bersama dengan artikel dan foto-foto lainnya tentang Yin dan Yang Bumi kita ini. Semoga kita senantiasa dapat menjaga keseimbangan kehidupan di atas Bumi: kita sebarkan berkah kebaikannya; dan kita waspadai serta kita hindari murka dan ancaman bencananya.

  • Kata Kunci :
    -

1 Penerbit : Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Jl. Diponegoro No. 57 Bandung 40122
2 Penulis : -
3 Editor : -
4 Layouter : -
5 Cover : -
6 Tebal : -
7 Berat : -
8 Ukuran : -
9 ISBN : -
10 Cetakan : -
11 Dikunjungi : 66x
12 Diunduh : 7x
13 URL : https://geologi.esdm.go.id/publikasi/laporan-dan-buku/geomagz-volume-1-no-3-tahun-2011

Ikuti Berita Kami