Biography of A.F. Lasut (7): The Birth of the Mines and Geological Service

According to A.H. Nasution (Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid 1: Proklamasi, 1977: 315-333), the implementation of Indonesia’s Proclamation of Independence in Bandung took place under fragile underground coordination due to strict Japanese surveillance. However, even before August 1945, Bandung’s youth groups had established organizational networks and military training with the conviction that a power vacuum would soon emerge. Therefore, after news of Japan’s capitulation was received on 15 August 1945, Bandung youth waited for signals from Jakarta and only confirmed the Proclamation on 18 August. They then encouraged local seizures of power by forming coordination centers, the KNI (Indonesian National Committee), and the BKR (People’s Security Agency), while dismantling Japanese symbols and raising the Red-and-White flag.

 

Efforts to seize Japanese weapons succeeded in several places but were hampered by dual leadership, internal rivalry, and the strategic choice of diplomacy that postponed the takeover of armories. Tensions peaked in early October 1945 when, under Allied pressure, the Japanese carried out large-scale security operations in Bandung. Troops and tanks were deployed, weapons were confiscated, and popular movements were pushed back, causing attempts at armed consolidation to fail. Three days later, British troops (the 23rd Indian Division) entered Bandung, strengthened the Allied position, and opened the way for NICA. The failure of Indonesian youth to seize Japanese weapons triggered a crisis of confidence in the official leadership and encouraged the emergence of various youth militias as the main forces of struggle in Bandung in the next phase.

 

In a Bandung situation marked by weak leadership coordination, rising tension with Japan and the Allies, and an urgent need to control strategic institutions, space emerged for individual initiatives by those with organizational networks and technical expertise. These conditions enabled A.F. Lasut to appear both as a fighter and as an organizer who focused his struggle on taking over state institutions—especially in mining and geology—as part of an effort to uphold the Republic’s sovereignty administratively and economically.

 

According to Mardanas Safwan (Arie Frederik Lasut, 1981: 60–63), in early September 1945, A.F. Lasut responded to the President’s instruction to take over government institutions from the Japanese by leading the takeover of the Geological Service (Jawatan Geologi) on 28 September 1945 through systematically prepared negotiations. As a result, the Mines and Geological Service came under Republican control and was reorganized within a new structure under the relevant ministry.

 

A.F. Lasut also helped establish and lead the Bandung branch of Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) after it was founded in Jakarta on 8 October 1945 by Sulawesi youth. He formed a fighting militia under the command of trusted figures and coordinated the integration of KRIS units with the popular forces of West Java. Amid the Allied arrival and NICA activities, he also took intelligence measures by placing KRIS members as spies at the Hotel Preanger to anticipate enemy maneuvers.

 

When Bandung entered a phase of open conflict in October–November 1945 and the city was divided into North and South Bandung, A.F. Lasut was actively involved in combat while also leading the relocation of the Mines and Geological Service office to Ciwidey and securing important archives and equipment so that they would not fall into enemy hands.

 

In detail, Rab Sukamto, Tjoek Soeradi, and Wikarno (Menguak Sejarah Kelembagaan Geologi di Indonesia: Dari Kantor Pencari Bahan Tambang Hingga Pusat Survei Geologi, 2006: 61–63) explain that on 25 September 1945 a decree of the President of the Republic of Indonesia was issued, stating, among other things, “All civil servants are declared employees of the Republic of Indonesia, and they must carry out the orders of the Government of the Republic of Indonesia.” This revolutionary spirit extended to the mining sector, from the central office of Sangyubu Chishitsuchosacho on Rembrandt Straat (now Jalan Diponegoro No. 57, Bandung) to mines scattered throughout the regions, which at that time were controlled by Japanese companies.

 

Then, one day after the takeover of Chishitsuchosacho, on 29 September 1945, a Governing Council was established under the chairmanship of R. Ali Tirtosoewirjo to manage the geological institution Chishitsuchosacho under its new name, the Mines and Geological Service (Pusat Djawatan Tambang dan Geologi, PDTG), headquartered on Rembrandt Straat and placed under the Ministry of Transportation/Public Works. It consisted of seven leaders: R. Ali Tirtosoewirjo as Chairman and Head of the Directorate, R. Sunu Soemosoesastro as Vice Chairman and Deputy Head, and A.F. Lasut, R.I. Soebroto Imanwiredjo, R. Slamet Pambudi, Amsir Al Wana, and Sangutjipto as members. The organization was initially arranged following the model of Mijnbouw (1942) and Chishitsuchosacho (1945), with four main divisions: General Affairs (headed by Slamet Pambudi), Geology (headed by R. Sunu Soemosoesastro), Laboratory (headed by R. Ali Tirtosoewirjo), and Enterprises (headed by A.F. Lasut).


However, a few days later the leadership was changed into a Workers’ Council consisting of nine members, with R. Sunu Soemosoesastro as Chairman and Head of the Directorate and A.F. Lasut as Vice Chairman and Deputy Head, plus two new members, S.M. Sair and R. Moedigdjo Koesoemodigdo. Subsequently, it was changed again, with A.F. Lasut becoming Chairman of the Council and Head of the Directorate, and R. Sunu Soemosoesastro serving as Head of the Geological Division. During A.F. Lasut’s leadership, a revolutionary announcement dated 20 October 1945 was issued, declaring that all mining companies in Indonesia were placed under the supervision of the PDTG. At that time, the workforce of the PDTG numbered 449 people, consisting of 10 senior staff, 80 middle-level staff, 205 junior staff, and 154 temporary workers. (Written by Atep Kurnia, edited by Eko Suryanto)





Penjagaan di Kota Bandung diperketat oleh TKR dan para pemuda. Sumber: A.H. Nasution (1977).




Biografi A.F. Lasut (7): Lahirnya Pusat Djawatan Tambang dan Geologi

Menurut A.H. Nasution (Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia, Jilid 1: Proklamasi, 1977: 315-333), pelaksanaan proklamasi kemerdekaan Indonesia di Bandung berlangsung dalam situasi koordinasi bawah tanah yang rapuh akibat pengawasan ketat Jepang. Sejak sebelum Agustus 1945, para pemuda telah membangun jaringan organisasi dan menjalani latihan militer dengan keyakinan akan datangnya masa vakum kekuasaan. Setelah berita kapitulasi Jepang diterima pada 15 Agustus 1945, para pemuda Bandung menunggu isyarat dari Jakarta dan baru memastikan Proklamasi pada 18 Agustus, mereka kemudian mendorong perebutan kekuasaan setempat dengan membentuk pusat koordinasi, KNI, dan BKR, sambil melucuti simbol-simbol Jepang serta mengibarkan Merah Putih.

Upaya merebut senjata Jepang sempat berhasil di beberapa tempat, tetapi terhambat oleh dualisme kepemimpinan, persaingan internal, dan pilihan strategi diplomasi yang menunda pengambilalihan gudang senjata. Ketegangan memuncak pada awal Oktober 1945 ketika Jepang, di bawah tekanan Sekutu, melakukan operasi penertiban besar-besaran di Bandung. Pasukan dan tank dikerahkan, senjata disita, serta gerakan rakyat dipukul mundur, sehingga upaya percobaan konsolidasi bersenjata mengalami kegagalan. Tiga hari kemudian, tentara Inggris (Divisi India ke-23) memasuki Bandung, memperkuat posisi Sekutu dan membuka jalan bagi NICA. Kegagalan perebutan senjata Jepang oleh para pemuda Indonesia memicu krisis kepercayaan terhadap pimpinan resmi dan mendorong lahirnya berbagai laskar pemuda sebagai kekuatan utama perjuangan di Bandung pada fase berikutnya.

Dalam situasi Bandung yang ditandai oleh lemahnya koordinasi pimpinan, meningkatnya ketegangan dengan Jepang dan Sekutu, serta kebutuhan mendesak akan penguasaan institusi strategis, muncul ruang bagi inisiatif individu yang memiliki jaringan organisasi dan kemampuan teknis. Kondisi tersebut memungkinkan A.F. Lasut tampil sebagai pejuang sekaligus sebagai organisator yang memusatkan perjuangan pada pengambilalihan lembaga negara, khususnya di bidang pertambangan dan geologi, sebagai bagian dari upaya menegakkan kedaulatan Republik secara administratif dan ekonomi.

Menurut Mardanas Safwan (Arie Frederik Lasut, 1981: 60-63), pada awal September 1945 A.F. Lasut merespons instruksi Presiden untuk mengambil alih lembaga pemerintah dari Jepang dengan memimpin perebutan Jawatan Geologi pada 28 September 1945 melalui perundingan yang disiapkan secara sistematis, sehingga Jawatan Tambang dan Geologi dapat dikuasai Republik dan ditata dalam struktur baru di bawah kementerian terkait.

A.F. Lasut turut pula mendirikan serta memimpin Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) cabang Bandung setelah dibentuk di Jakarta pada 8 Oktober 1945 oleh pemuda Sulawesi. Lasut membentuk laskar perjuangan di bawah komando tokoh-tokoh kepercayaannya, sekaligus mengoordinasikan penggabungan lasykar KRIS dengan kekuatan rakyat Jawa Barat. Dalam situasi masuknya Sekutu dan aktivitas NICA, ia juga melakukan langkah intelijen dengan menempatkan anggota KRIS sebagai mata-mata di Hotel Preanger guna mengantisipasi manuver lawan.

Ketika Bandung memasuki fase konflik terbuka pada Oktober–November 1945 dan kota dibagi menjadi Bandung Utara dan Selatan, A.F. aktif terlibat dalam pertempuran sekaligus memimpin pemindahan kantor Jawatan Tambang dan Geologi ke Ciwidey serta mengamankan arsip dan peralatan penting agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Secara rinci, Rab Sukamto, Tjoek Soeradi dan Wikarno (Menguak Sejarah Kelembagaan Geologi di Indonesia: Dari Kantor Pencari Bahan Tambang hingga Pusat Survei Geologi, 2006: 61-63) menjelaskan bahwa pada tanggal 25 September 1945 terbit perintah Presiden Republik Indonesia, yang antara lain berbunyi: "Semua pegawai negeri dinyatakan sebagai Pegawai Republik Indonesia, dan mereka harus menjalankan perintah dari Pemerintah Republik Indonesia". Tidak ketinggalan, semangat revolusi itu juga merambah sampai ke kalangan pertambangan, mulai dari kantor pusat Sangyubu Chishitsuchosacho di Rembrandt Straat (kini Jl. Diponegoro No. 57 Bandung) Bandung sampai ke tambang-tambang yang tersebar di daerah, yang pada waktu itu dikuasai oleh perusahaan Jepang.

Kemudian sehari setelah perebutan Chishitsuchosacho, pada 29 September 1945 dibentuk Dewan Pimpinan yang diketuai R. Ali Tirtosoewirjo untuk mengemudikan lembaga geologi Chishitsuchosacho dengan nama baru Pusat Djawatan Tambang dan Geologi (PDTG) yang berkedudukan di Rembrandt Straat dan berada di bawah Kementerian Perhubungan/Pekerjaan Umum, dengan susunan tujuh pimpinan: R. Ali Tirtosoewirjo sebagai Ketua merangkap Kepala Pusat, R. Sunu Soemosoesastro sebagai Wakil Ketua merangkap Wakil Kepala Pusat, serta A.F. Lasut, R.I. Soebroto Imanwiredjo, R. Slamet Pambudi, Amsir Al Wana, dan Sangutjipto sebagai anggota. Organisasi tersebut mulanya disusun mengikuti model Mijnbouw (1942) dan Chishitsuchosacho (1945) dengan empat bagian utama, yaitu Urusan Umum (dengan kepala: Slamet Pambudi), Geologi (kepala: R. Sunu Soemosoesastro), Laboratorium (kepala: R. Ali Tirtosoewirjo), dan Perusahaan (kepala: Arie Frederick Lasut).

Namun, beberapa hari kemudian kepemimpinan diubah menjadi Dewan Buruh beranggotakan sembilan orang dengan R. Sunu Soemosoesastro sebagai Ketua merangkap Kepala Pusat dan A.F. Lasut sebagai Wakil Ketua merangkap Wakil Kepala Pusat, ditambah dua anggota baru, S.M. Sair dan R. Moedigdjo Koesoemodigdo, sebelum akhirnya kembali berubah dengan A.F. Lasut sebagai Kepala Dewan merangkap Kepala Pusat dan R. Sunu Soemosoesastro sebagai Kepala Bagian Geologi. Selanjutnya, pada masa kepemimpinan A.F. Lasut dikeluarkan pengumuman revolusioner tanggal 20 Oktober 1945 yang menetapkan seluruh perusahaan pertambangan di Indonesia berada di bawah pengawasan PDTG, dengan kekuatan pegawai saat itu mencapai 449 orang yang terdiri atas 10 pegawai tinggi, 80 pegawai menengah, 205 pegawai rendah, dan 154 pegawai lepas. (Penulis ATEP KURNIA, Editor Eko Suryanto)


Ikuti Berita Kami