Peralihan menuju energi bersih kini menjadi agenda besar dunia. Kendaraan listrik, turbin angin, hingga sistem penyimpanan energi terus berkembang pesat. Di balik teknologi tersebut, terdapat kebutuhan besar akan mineral seperti nikel, kobalt, litium, dan tembaga. Mineral-mineral ini menjadi fondasi utama dalam mendukung sistem energi masa depan.
Menurut laporan International Energy Agency, kebutuhan mineral untuk teknologi energi bersih diperkirakan meningkat hingga empat kali lipat pada tahun 2040. Permintaan litium bahkan dapat melonjak lebih dari 40 kali lipat. Sementara itu, nikel dan kobalt diproyeksikan meningkat sekitar 20 kali lipat dari kondisi saat ini. Lonjakan ini menjadikan mineral kritis sebagai komoditas yang sangat strategis di tingkat global.
Selama ini, pemenuhan kebutuhan mineral lebih banyak bergantung pada sumber daya di daratan. Namun, perhatian dunia kini mulai bergeser ke wilayah yang belum banyak tersentuh, yaitu dasar laut dalam. Kawasan ini menyimpan potensi mineral yang sangat besar dan berperan penting dalam mendukung kebutuhan energi masa depan. Laut dalam yang dahulu dianggap sulit dijangkau, kini mulai dilirik sebagai sumber daya baru.
Kawasan dasar laut internasional, yang dikenal sebagai International Seabed Area, merupakan wilayah yang berada di luar yurisdiksi negara mana pun. Pengelolaannya diatur dalam kerangka United Nations Convention on the Law of the Sea. Dalam praktiknya, pengaturan kegiatan eksplorasi dan pemanfaatan sumber daya dilakukan oleh International Seabed Authority. Tujuannya adalah memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya laut dalam dilakukan secara adil dan berkelanjutan.
Secara geologi, dasar laut menyimpan beberapa jenis endapan mineral penting. Salah satunya adalah polymetallic nodules, yaitu gumpalan mineral yang tersebar di permukaan sedimen laut dalam pada kedalaman ribuan meter. Nodul ini terbentuk sangat lambat melalui proses pengendapan logam dari air laut dan sedimen. Kandungan utamanya meliputi mangan, nikel, tembaga, dan kobalt.
Jenis berikutnya adalah seafloor massive sulphides, yang terbentuk di sekitar sumber panas di dasar laut, seperti ventilasi hidrotermal. Fluida panas dari dalam bumi membawa logam, lalu mengendapkannya ketika bercampur dengan air laut yang lebih dingin. Endapan ini dikenal memiliki kandungan logam yang relatif tinggi. Beberapa logam penting yang terkandung di dalamnya antara lain tembaga, seng, emas, dan perak.
Selain itu, terdapat pula cobalt-rich ferromanganese crusts yang berkembang di lereng gunung bawah laut. Endapan ini terbentuk melalui pengendapan logam langsung dari air laut selama jutaan tahun. Ketebalannya dapat mencapai puluhan sentimeter, meskipun proses pembentukannya sangat lambat. Endapan ini mengandung kobalt, nikel, serta logam tanah jarang yang penting untuk teknologi modern.
Salah satu wilayah dengan potensi besar adalah kawasan Clarion-Clipperton Zone di Samudra Pasifik. Wilayah ini dikenal kaya akan polymetallic nodules dalam jumlah yang sangat besar. Potensi ini menjadikannya sebagai salah satu target utama eksplorasi global. Hal ini menunjukkan bahwa dasar laut bukan lagi sekadar wilayah yang terpencil, tetapi telah menjadi frontier baru dalam pemanfaatan sumber daya mineral.
Besarnya potensi tersebut mulai menarik perhatian banyak negara dan perusahaan di dunia. Aktivitas eksplorasi di kawasan dasar laut internasional pun terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Negara-negara maju hingga negara kepulauan mulai berlomba untuk terlibat dalam pengelolaan sumber daya ini. Persaingan global dalam mengamankan mineral masa depan kini semakin nyata.
Lalu, bagaimana posisi Indonesia di tengah dinamika ini? Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, apakah Indonesia hanya akan menjadi penonton, atau justru mampu mengambil peran strategis dalam pengelolaan “harta karun” di dasar laut? Jawaban atas pertanyaan tersebut akan kita bahas pada Bagian 2, termasuk peluang Indonesia, dinamika regulasi, serta peran penting Badan Geologi dalam mendukung pengelolaan sumber daya laut dalam secara berkelanjutan.
Referensi
• International Energy Agency. The Role of Critical Minerals in Clean Energy Transitions, 2021.
• International Seabed Authority. Deep Seabed Minerals Contractors Database, 2023.
• United Nations Convention on the Law of the Sea, 1982.
• Hein, J.R., et al. 2013. Deep-Ocean Mineral Deposits as a Source of Critical Metals. Ore Geology Reviews.
• USGS. Mineral Commodity Summaries, 2023.
Penulis : Asep K. Permana
Penyunting : Tim Scientific Board - PSG