Full Tensor Gravity Gradiometry (FTG) merupakan teknik
geofisika canggih yang mengukur gradien medan gravitasi dalam bentuk tensor
penuh, sehingga mampu merekam variasi percepatan gravitasi secara tiga dimensi
dengan resolusi tinggi. Berbeda dengan metode gravitasi konvensional yang hanya
mengukur besar anomali gravitasi, FTG menangkap perubahan spasial medan
gravitasi secara lebih detail, sehingga sangat efektif untuk memetakan struktur
bawah permukaan.
Kemampuan tersebut menjadikan FTG penting dalam
berbagai aplikasi geologi dan geofisika, terutama eksplorasi minyak dan gas
bumi (migas), mineral, panas bumi, hingga studi lingkungan dan hidrologi. Sejak
pertama kali dikembangkan, teknologi ini terus berevolusi melalui kemajuan
instrumentasi, sistem akuisisi, serta metode pemrosesan data.
1. Perkembangan Awal
(1970-an - 1980-an)
Akar teknologi FTG dapat ditelusuri ke tahun
1970-an ketika Bell Aerospace (kini bagian dari Lockheed Martin) mulai
mengembangkan gradiometer gravitasi presisi tinggi. Sistem awal masih bersifat
stasioner, namun penelitian tersebut meletakkan dasar bagi pengembangan sistem
bergerak (mobile system).
Pada tahun 1975, prototipe gradiometer gravitasi
berbasis platform bergerak mulai dikembangkan untuk dipasang pada pesawat
terbang maupun kapal laut. Inovasi ini memungkinkan pengukuran dinamis di area
luas, sesuatu yang tidak dapat dicapai oleh instrumen darat sebelumnya (Douch et al., 2014; X. Huang et
al., 2018).
Memasuki dekade 1980-an, sensitivitas dan
resolusi pengukuran semakin meningkat. Sistem airborne gravity gradiometry
mulai diterapkan dalam survei geofisika regional untuk mendukung pemetaan
geologi dan eksplorasi sumber daya alam.
2.
Adaptasi Komersial dan Pematangan Teknologi (1990-an)
Tahun 1990-an menjadi periode penting ketika
teknologi ini dideklasifikasi dari penggunaan militer dan mulai dimanfaatkan
secara komersial. Pada tahun 1997, Lockheed Martin memperkenalkan Airborne
Full Tensor Gradiometer (FTG) untuk aplikasi sipil (Beiki, 2011; Yang et al., 2023).
Sistem ini mampu mengukur enam komponen gradien gravitasi independen secara
simultan (sesuai sifat simetri tensor gravitasi), sehingga menghasilkan citra
bawah permukaan yang jauh lebih detail dibandingkan metode gravitasi konvensional.
Sejak saat itu, FTG menjadi bagian integral
industri eksplorasi. Data resolusi tinggi yang dihasilkan membantu
mengidentifikasi struktur geologi seperti sesar, lipatan, cekungan sedimen,
intrusi batuan beku, serta perangkap hidrokarbon. Teknologi ini kemudian banyak
diterapkan pada eksplorasi migas, mineral, hingga panas bumi, dan mulai
dianggap sebagai salah satu metode standar dalam survei geofisika modern (Qian & Zhu, 2019).
3. Kemajuan dalam
Instrumentasi dan Teknik (2000-an)
Memasuki era 2000-an, kemajuan signifikan
terjadi pada aspek instrumentasi dan pemrosesan data. Penggunaan akselerometer
elektrostatik ultra-sensitif mampu menurunkan tingkat noise sekaligus
meningkatkan resolusi pengukuran. Salah satu inovasi penting adalah sistem Falcon
Airborne Gravity Gradiometer, yang dikenal memiliki tingkat kebisingan
sangat rendah dan performa stabil untuk survei skala regional (Galder & Dransfield, 2016; Yu
et al., 2024).
Sistem ini memungkinkan akuisisi data yang lebih cepat dan efisien, bahkan di
wilayah terpencil. Di sisi lain, pengembangan algoritma inversi dan teknik
pemodelan tiga dimensi juga semakin matang. Pendekatan ini memungkinkan data
FTG beresolusi tinggi diolah menjadi model geologi bawah permukaan yang lebih
akurat, sehingga meningkatkan keandalan interpretasi geofisika.
4. Inovasi Saat Ini
dan Masa Depan (2010-an - Sekarang)
Dalam beberapa tahun terakhir, teknologi FTG
telah berkembang lebih jauh, terutama didorong oleh kemajuan dalam analisis
data dan integrasi dengan teknologi pelengkap. Apalagi dengan upaya kolaboratif
antara perusahaan dan institusi akademik mengarah pada pengembangan sistem
pemrosesan otomatis dan peningkatan teknik kalibrasi, yang sangat penting untuk
survei udara skala besar (Zhou et al., 2024).
Selain itu, munculnya misi satelit seperti GRACE
dan GOCE telah memberikan dimensi baru untuk gravimetri terestrial,
memungkinkan validasi silang data FTG dengan data gravitasi satelit dan untuk
interpretasi geofisika yang lebih bermakna. Hasil yang diperoleh dari misi
satelit ini telah memperkuat temuan dari survei FTG, meningkatkan model
hidrologi dan meningkatkan analisis penyimpanan air di daratan (Cai et al., 2021).
Inovasi VK1™ Airborne Gravity Gradiometer,
yang dikembangkan secara kolaboratif antara Rio Tinto dan University of Western
Australia, menunjukkan potensi teknologi FTG generasi berikutnya yang
dirancang untuk mengurangi ketidakpastian dan meningkatkan resolusi spasial (Pfeffer et al., 2023).
Selain itu, studi terbaru mengeksplorasi penggunaan teknologi kuantum, seperti
interferometer atom dingin, untuk mencapai presisi yang belum pernah terjadi
sebelumnya dalam pengukuran gravitasi, yang dapat merevolusi aplikasi FTG.
Teknologi FTG memiliki potensi besar untuk mendukung pelaksanaan tugas dan fungsi Pusat Survei Geologi (PSG) dalam penyelidikan, pemetaan, serta penyediaan data dan informasi geologi nasional. Data gradien gravitasi resolusi tinggi dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi struktur bawah permukaan seperti sesar aktif, cekungan sedimen, intrusi magmatik, serta batas litologi. Informasi ini sangat penting dalam eksplorasi sumber daya mineral, migas, dan panas bumi, sekaligus mendukung pemahaman sistem kebencanaan geologi. Penerapan FTG dapat menjadi salah satu strategi modernisasi survei geofisika nasional serta memperkuat peran PSG sebagai penyedia data dasar kebumian yang andal untuk mendukung ketahanan energi, kemandirian mineral, dan pembangunan berkelanjutan.
Referensi
Cai, L., Wan, X., Hsu, H., Ran, J.,
Meng, X., Luo, Z., & Zhou, Z. (2021). The Earth’s Gravity Field Recovery
Using the Third Invariant of the Gravity Gradient Tensor From GOCE. Scientific
Reports, 11(1). https://doi.org/10.1038/s41598-021-81840-1.
Douch, K., Christophe, B., Foulon,
B., Panet, I., Pajot‐Métivier, G., & Diament, M. (2014). Ultra-Sensitive
Electrostatic Planar Acceleration Gradiometer for Airborne Geophysical Surveys.
Measurement Science and Technology, 25(10), 105902. https://doi.org/10.1088/0957-0233/25/10/105902.
Galder, C. v., & Dransfield, M.
(2016). Full Spectrum Gravity—Improving AGG Data Quality at Both Ends of the
Spectrum. Aseg Extended Abstracts, 2016(1), 1–5. https://doi.org/10.1071/aseg2016ab111
Huang, X., Deng, Z., Xie, Y., Fan,
J., Hu, C., & Tu, L. (2018). Study on Misalignment Angle Compensation
During Scale Factor Matching for Two Pairs of Accelerometers in a Gravity
Gradient Instrument. Sensors, 18(4), 1247. https://doi.org/10.3390/s18041247.
Pfeffer, J., Cazenave, A.,
Blazquez, A., Decharme, B., Munier, S., & Barnoud, A. (2023). Assessment of
Pluri-Annual and Decadal Changes in Terrestrial Water Storage Predicted by
Global Hydrological Models in Comparison With the GRACE Satellite Gravity
Mission. Hydrology and Earth System Sciences, 27(20), 3743–3768. https://doi.org/10.5194/hess-27-3743-2023
Qian, X., & Zhu, Y. (2019).
Self-gradient compensation of full-tensor airborne gravity gradiometer. Sensors
(Switzerland), 19(8). Scopus. https://doi.org/10.3390/s19081950.
Yu, J., Wang, Y., Zheng, D., Zhang,
H., Pang, J., Xiong, J., & Zhao, X. (2024). Cenozoic faulting of the
Ganzi-Yushu (Xianshuihe) fault from apatite (U-Th)/He ages and its implications
for the tectonic reorganization in the southeastern Tibetan plateau. Journal
of Structural Geology, 189, 105286. https://doi.org/10.1016/j.jsg.2024.105286
Zhou, S., Yang, C., Cheng, Y.,
Jiao, J., & Bi, F. (2024). An Airborne Gravity Gradient Compensation Method
Based on Residual Backpropagation. Measurement Science and Technology, 36(2),
025102. https://doi.org/10.1088/1361-6501/ada058.
Penulis : Joko Wahyudiono, Iwan Sukma Gumilar, J.B. Januar, Nova Novelya, Rosyanti, Hidayat (Tim Teknis FTG – PSG)
Penyunting : Tim Scientific
Board - PSG