Wujudkan Sinergisitas dan Mitigasi Kebencanaan, Badan Geologi Berikan Sosialisasi MAGMA dan Portal Mitigasi Bencana Geologi di Soreang

Sinergisitas antar lembaga melalui penyajian data yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses menjadi kunci dalam mendukung pengambilan kebijakan mitigasi bencana geologi. Hal tersebut menjadi dasar penyelenggaraan kegiatan Penyebaran Informasi Pemanfaatan MAGMA Indonesia dan Portal Mitigasi Bencana Geologi dalam Mendukung Mitigasi Bencana Geologi dan Perencanaan Tata Ruang Berbasis Risiko oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi yang dilaksanakan di Soreang, Kabupaten Bandung, pada 29 April 2026.

Dalam kegiatan ini, Plt. Kepala Badan Geologi, Dr. Lana Saria,S.Si.,M.Si menyampaikan komitmen Badan Geologi dalam memperkuat distribusi informasi kebencanaan secara strategis untuk mendukung upaya mitigasi dan perencanaan tata ruang.

"Sosialisasi ini mengupayakan ketersediaan data dan informasi geologi yang akurat, mutakhir, dan mudah diakses melalui berbagai platform, termasuk melalui MAGMA Indonesia dan Portal Mitigasi Bencana Geologiā€ ujar Lana.


MAGMA Indonesia merupakan aplikasi real-time berbasis web dan mobile yang menyajikan informasi serta rekomendasi kebencanaan geologi, mulai dari gunung api, gempa bumi, tsunami hingga gerakan tanah. Sementara itu, Portal Mitigasi Bencana Geologi atau PortalMBG berperan sebagai pintu akses data spasial, termasuk Peta Kawasan Rawan Bencana dan data dasar monitoring, yang dapat dimanfaatkan sebagai dasar tindak lanjut rekomendasi oleh para pemangku kepentingan.

Melalui kegiatan ini, Badan Geologi menegaskan bahwa informasi kebencanaan tidak berhenti pada penyediaan aplikasi, tetapi harus menjadi bagian dari sistem pengambilan keputusan. Dalam paparan yang disampaikan, dijelaskan bahwa peringatan dini bahaya geologi merupakan bagian dari tugas Badan Geologi, sementara pengelolaan faktor kerentanan menjadi peran penting pemerintah daerah. Dengan demikian, kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan unsur pentahelix menjadi faktor penting agar informasi kebencanaan dapat berubah menjadi aksi nyata yang menyelamatkan.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Dr. Priatin Hadi Wijaya, S.T., M.T., turut menegaskan pentingnya tindak lanjut nyata dari kegiatan ini.

ā€œKami juga mendorong agar hasil kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dalam bentuk implementasi nyata di berbagai daerah, sehingga upaya pengurangan risiko bencana dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutanā€ tegas Hadi.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pemangku kepentingan di wilayah Jawa Barat, antara lain BPBD Provinsi Jawa Barat, BPBD Kota Bandung, BPBD Kabupaten Bandung, BPBD Kabupaten Bandung Barat, BPBD Kota Cimahi, Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Barat, Basarnas, serta Kantor SAR Bandung.

Apresiasi terhadap kegiatan ini disampaikan oleh Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun,M.A.P,Ph.D. Menurutnya, sinergi antara BPBD dan Badan Geologi sangat penting dalam memperkuat upaya mitigasi di daerah.

ā€œSinergi yang terus berjalan antara BPBD dan Badan Geologi sangat berarti, kami mendapat tiga manfaat dari kegiatan ini, pertama adanya data instrumen keselamatan nyata, sebagai benteng masa depan agar kita tidak mewarisi kebencanaan ke generasi mendatang serta sinergisitas karena mitigasi ini adalah kerja kolaboratifā€ jelas Teten.

Selain sesi sosialisasi, kegiatan ini juga diisi dengan paparan teknis dan workshop penggunaan Magma dan Portal MBG. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai perbedaan fungsi kedua platform tersebut. MAGMA Indonesia berfokus pada informasi kejadian bencana terkini, peringatan dini, dan tanggap darurat, sedangkan Portal MBG berfokus pada penyediaan data spasial kebencanaan geologi seperti peta Kawasan Rawan Bencana Geologi dan Zona Kerentanan Gerakan Tanah untuk kepentingan mitigasi dan penataan ruang.


Dalam sesi diskusi, para peserta menyampaikan berbagai masukan, antara lain kebutuhan integrasi MAGMA Indonesia dan Portal MBG dengan sistem informasi daerah, seperti Smart City, portal tata ruang, website BPBD, serta sistem satu data daerah. Peserta juga menyoroti pentingnya pendampingan teknis dalam pemanfaatan data gerakan tanah, kebutuhan informasi yang lebih mudah diakses masyarakat, serta inovasi sosialisasi kebencanaan agar dapat menjangkau generasi muda.

Beberapa pemerintah daerah juga menanyakan pemanfaatan data Portal MBG sebagai acuan rekomendasi teknis. Dalam diskusi dijelaskan bahwa peta Kawasan Rawan Bencana dan Zona Kerentanan Gerakan Tanah dapat digunakan sebagai salah satu acuan dalam penyusunan rekomendasi, sementara kebutuhan pengembangan fitur dan skala informasi yang lebih detail menjadi masukan penting bagi pengembangan sistem ke depan.

PVMBG juga menyampaikan bahwa interoperabilitas data MAGMA Indonesia telah tersedia dan pengembangan sistem akan terus dilakukan, termasuk perluasan informasi kebencanaan geologi yang lebih detail serta dukungan akses melalui web dan perangkat mobile. Dengan adanya pengembangan tersebut, MAGMA Indonesia dan Portal MBG diharapkan semakin mampu mendukung pengurangan risiko bencana geologi, penguatan tata ruang berbasis risiko, serta peningkatan kesiapsiagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

Sebelumnya, kegiatan serupa juga telah dilaksanakan di sejumlah daerah, antara lain Kabupaten Banyumas, Kabupaten Pemalang, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Probolinggo. Melalui kegiatan ini, Badan Geologi berharap pemanfaatan MAGMA Indonesia dan Portal MBG dapat semakin luas serta menjadi bagian penting dalam pengambilan kebijakan mitigasi bencana geologi di daerah.

Ikuti Berita Kami