Hidup Harmoni Di Tanah Bencana: Isu Geosains Ke Depan Dalam Menata Ruang

Bandung - Negeri indonesia diberi anugrah berada dalam pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, kondisi tektonik tersebut sangat berpengaruh terhadap kehidupan bangsa ini. Lajur mineralisasi dan cekungan-cekungan sedimen memberikan kelimpahan sumber daya mineral dan sumber daya minyak dan gas bumi. Deretan 127 Gunungapi aktif dan sebaran 16.056 pulau yang membentang dari ujung barat sampai timur, dengan panjang pantai 55 ribu Km, memberikan keindahan yang tiada tara sebagai potensi destinasi dalam sektor pariwisata, namum dibalik semua anugrah yang melimpah tersebut tersimpan potensi bencana yang menjadi pengingat dan pemandu kita agar selalu arif dan bijaksana dalam pengelolaanya.

Pergerakan ketiga lempeng tektonik yang dinamis tentunya selalu memberi peringatan kepada kita untuk lebih waspada terhadap bencana geologi yang akan terjadi. Gempabumi, tsunami dan letusan gunungapi akan menjadi bagian dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, kalau kita sudah mempunyai perspektif bahwa hal tersebut merupakan bagian dari kehidupan tentunya kita harus berusaha mencari cara bagaimana hidup harmoni dengan kondisi tersebut.

Dalam beberapa bulan terakhir, secara beruntun wilayah tanah air dikejutkan oleh berbagai kejadian bencana geologi berskala besar, mulai dari kejadian gempabumi Lombok pada bulan Juli 2018, kemuadian disusul gempabumi dan tsunami Palu pada akhir September 2018, dan yang masih hangat di benak kita adalah kejadian tsunami yang sementara diduga dipicu oleh longsoran tubuh gunung Anak Krakatau pada penghujung tahun 2018. Kejadian-kejadian bencana tersebut memberikan dampak kerugian yang sangat besar bagi masyarakat dan negara. Ribuan jiwa meninggal dan kerugian ekonomi yang tidak sedikit serta menyisakan trauma yang mendalam bagi para korban yang selamat akibat bencana tersebut. BNPB mencatat kerugian ekonomi pada kejadian gempabumi Palu mencapai lebih dari Rp. 13,82 triliun (Tribun Timur, 17 Januari 2019), lebih besar dari total biaya pembangunan ruas jalan tol terpanjang di Indonesia Cikopo - Palimanan yang menghubungkan Purwakarta-Cirebon sepanjang 116,7 km. Demikian juga gempabumi Lombok menimbulkan kerugian ekonomi mencapai Rp. 12,15 triliun yang meliputi kerusakan bangunan, infrastruktur dan kerusakan fasilitas yang lain (CNN Indonesia, 10 September 2018). Nilai tersebut belum termasuk anggaran untuk pemulihan paska bencana sebesar Rp 34 triliun untuk kedua wilayah tersebut (Kompas, 18 Januari 2019).

Mengapa Dampak Bencana Gempabumi di Indonesia Begitu Besar ?

Sesungguhnya masyarakat Indonesia sudah mempunyai pengalaman yang panjang mengenai kebencanaan gempabumi, karena memang secara geografis wilayah Indonesia terletak pada jalur tektonik aktif yang terus bergerak, yang setiap saat dapat menimbulkan kejadian gempabumi. Rilis dari Pusat Gempa Nasional BMKG pada awal bulan ini mencatat sebanyak 11.577 gempabumi terjadi di wilayah Indonesia selama tahun 2018 dengan magnitudo dan kedalaman bervariasi dari kecil sampai besar. Sedemikian banyaknya kejadian-kejadian tersebut selama bertahun-tahun barangkali telah membuat kita akrab dengan bencana bencana itu sendiri. Ketika wilayah Aceh porak poranda akibat gempabumi dan tsunami pada tahun 2004, tak selang waktu yang lama kemudian masyarakat telah membangun kembali wilayah yang dulu terdampak, seolah kita sudah lupa wilayah itu pernah disapu oleh tsunami dan diguncang gempabumi, padahal bencana yang sama mungkin akan terulang lagi, karena sumber bencananya masih "duduk" tidak berpindah pada tempatnya. Hal yang sama juga terjadi di Padang, Pangandaran, Bantul, Banyuwangi dan mungkin saja nanti di Palu.

Apakah pemerintah tidak melakukan penelitian yang bisa menjadi bahan pertimbangan dalam penyusunan tata ruang? Jawabannya adalah sudah banyak sekali penelitian yang dilakukan oleh berbagai institusi terkait maupun oleh universitas, yang menjadi permasalahan adalah implementasi dari hasil penelitian tersebut belum berjalan seperti yang diharapkan. Hasil penelitian umumnya hanya bersifat rekomendasi yang tidak mengikat untuk diterapkan baik oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Saat ini barangkali menjadi momentum yang baik bagi pemerintah untuk mendorong penyusunan undang-undang geologi yang mencakup implementasi hasil penelitian kebencanaan dalam penyusunan tata ruang wilayah, dan yang lebih penting lagi nantinya adalah penegakan atas undang-undang tersebut.

Isu Geosains ke Depan

Secara umum struktur sesar aktif di Indonesia telah teridentifikasi secara baik, apalagi dengan jaringan seismometer yang ada sekarang lebih rapat dan cukup tersebar merata, aktifitas sesar yang diindikasikan dari kejadian-kejadian gempabumi baik berskala kecil maupun besar dapat memberikan informasi posisi lajur-lajur sesar aktif. Namun demikian sesungguhnya sumber bencana dalam kejadian gempabumi tidak an sich dari aktifitas sesar itu sendiri, tetapi juga berasal dari karakteristik kondisi geologi setempat. Sedimen yang lunak yang diendapkan di atas batuan yang keras akan mengalami penguatan gelombang bila terjadi gempabumi atau dikenal sebagai site amplification.

Fenomena site amplifikation secara masif mulai dikaji oleh para ahli seismologi teknik pada era 80-an, yang dipicu kejadian gempabumi Michoacan berskala 8.0 SR yang berpusat di pantai barat Mexico. Gempabumi yang terjadi pada 19 September 1985 tersebut mengakibatkan kota Mexico City hancur walaupun jarak terhadap pusat gempabumi cukup jauh yakni 350 km. Kota Mexico City sendiri dibangun di atas endapan lakustrin (endapan danau purba) yang sangat lunak yang diendapkan di atas cekungan antar pegunungan Trans Mexican Belt. Hancurnya kota Mexico City dipicu oleh penguatan gelombang gempabumi pada endapan lakustrin yang mempunyai kontras impedansi yang cukup besar terhadap batuan dasarnya.

Jauh hari sebelum kejadian bencana gempabumi di Mexico City, sebetulnya di Indonesia juga sudah mengalami hal serupa. Van Bemmelen (1949) dalam bukunya "Geology of Indonesia" menyebutkan bahwa telah terjadi gempabumi yang berpusat di selatan Kebumen pada 23 Juli 1943. Daerah yang mengalami kerusakan terbentang dari Cilacap sampai Pacitan dan kerusakan terparah terjadi di Bantul dan Cawas. Ketika terjadi gempabumi Yogyakarta tahun 2006 yang berpusat di selatan Bantul, hal serupa terjadi pada kedua wilayah ini.

Belajar dari kejadian bencana di Mexico City tersebut, kita perlu menengok kembali apakah wilayah kita rentan terhadap site amplification effect? Bercermin dari kota Mexico City yang hancur oleh gempabumi berjarak 350 km, rasanya sebagian besar kota di Indonesia tidak aman, karena pada umumnya kota-kota besar di Indonesia dibangun di atas endapan sedimen resen yang lunak dan jarak sumber gempabumi kita relatif dekat atau bahkan berada pada lajur sumber gempabuminya. Contoh paling banyak di P. Sumatera, banyak sekali kota-kota yang berkembang di sepanjang Sesar Besar Sumatera.

Kota-kota yang berkembang di saerah sepanjang Sesar Besar Sumatera.

Jika kita lihat dari sudut pandang geologi pada umumnya sesar geser seperti Sesar Besar Sumatera akan terbentuk flower structure. Bila flower structure tersebut berada di bagian kompresi maka akan terbentuk pop-up, sebaliknya bila struktur tersebut berada di bagian dilatasi / tarikan, maka akan terbentuk pull-apart basin. Secara morfologi pull-apart basin merupakan rendahan dimana batuan penyusunnya merupakan hasil proses erosi dari daerah sekitarnya yang lebih tinggi mengendap membentuk dataran aluvial. Dataran aluvial ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat karena pada umumnya ketersediaan air melimpah, tanah yang subur dan nyaman untuk pemukiman dan akhirnya berkembang menjadi kota. Beberapa kota yang berdiri di atas pull-apart basin diantaranya : Kota Agung, Liwa, Sungaipenuh, Muara Labuh, Solok, Padang Panjang, Bukittinggi, Padang Sidempuan, Tarutung, Kutacane, Banda Aceh dan kota-kota kecil lainnya. Kota-kota ini menyimpan resiko potensi bencana yang sangat tinggi baik efek langsung dari aktifitas sesar maupun penguatan gelombang oleh sedimen lunak di permukaan, sehingga evaluasi kebencanaan perlu mendapatkan prioritas di wilayah ini. Pemetaan site amplification perlu dilakukan untuk reevaluasi tata ruang dalam rangka mengurangi dampak bencana gempabumi di kemudian hari. Kota Palu yang masih berusaha bangkit dari keterpurukan akibat bencana gempabumi dan tsunami yang juga merupakan daerah pull-apart basin rasanya sudah cukup memberi pelajaran bagi kita untuk mengevaluasi potensi kebencanaan di tempat lain

Hal ini bukan untuk menakuti atau membuat resah bagi masyarakat yang tinggal di Kota-kota tersebut, tetapi mengingatkan agar kita selalu waspada, salah satunya dengan melakukan penelitian geosains di daerah tersebut sebagai upaya mitigasi dan masukan dalam menata ruang, sehingga hidup harmoni dapat terwujud.

Sumber : Asep Kurnia Permana dan Marjiyono



Ikuti Berita Kami